Sumbawanews.com,- Pada 28 Juni 2026, Tempo dan Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) merilis laporan investigasi yang mengungkap keterlibatan Gaurav Srivastava, warga negara Amerika Serikat kelahiran India, dalam upaya penipuan terhadap Presiden Prabowo Subianto saat menjabat Menteri Pertahanan. Srivastava mendaku sebagai agen tidak resmi CIA dan menjalin hubungan dekat dengan Prabowo serta adiknya, Hasjim Djojohadikusumo, sejak 2020. Laporan itu menyebut bahwa Kementerian Pertahanan pernah mengeluarkan tiga surat—dua letter of agreement dan satu letter of intent—pada 22–23 Desember 2020 kepada tiga perusahaan milik Srivastava: Orbimo Corporation, Constentis Corporation, dan Zegasus Corporation. Ketiga entitas itu ternyata fiktif, didirikan setelah surat-surat itu dikeluarkan, dan berisi rencana pembelian pesawat tempur F-15EX serta UH-60 Black Hawk, serta pembangunan pusat komando operasi gabungan. Surat-surat itu menyatakan diri sebagai “perjanjian mengikat,” padahal tidak ada verifikasi latar belakang Srivastava yang memiliki catatan buruk dalam kasus penipuan dan pelanggaran kontrak di Amerika Serikat sejak 2014.
Tiga hari setelah laporan itu terbit, muncul gelombang konten di media sosial yang membantah kebenaran investigasi itu. Di platform X, akun @epiiee118172 mengunggah tautan artikel Kompasiana bertajuk “Meluruskan Fakta, Prabowo Ternyata Tak Pernah Tertipu Gustav Srivastava” dengan tagar #HoaxPenipuanPresiden. Dalam waktu tiga jam, 114 cuitan dan 44 unggahan Instagram serupa muncul secara terkoordinasi. Tim Cek Fakta Tempo bersama Monash Data and Democracy Research Hub dan ThinkFi menemukan pola operasi pengaruh: 44 unggahan menautkan artikel Kompasiana dari penulis bernama Pak Be, yang sejak Maret 2024 telah menulis 90 artikel mendukung Prabowo dan menangkal isu negatif; 55 unggahan menyebarkan infografis berisi pernyataan Kepala Biro Informasi Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Sirait yang menegaskan tidak ada kontrak dengan Srivastava, hanya penjajakan; dan 11 unggahan lain memutar video dengan narator menyampaikan pernyataan yang sama, disertai rekaman Prabowo meninjau pesawat tempur. Meski menyebut surat itu tidak mengikat secara hukum, peneliti dari Lesperssi, Beni Sukadis, menilai penerbitan surat itu sebagai bukti minimnya kehati-hatian dalam proses pengadaan alutsista—dan itu, menurutnya, merupakan bentuk penipuan.
Hingga 14 Juli 2026, Kementerian Pertahanan belum memberi respons terhadap permintaan konfirmasi dari Tempo terkait sebaran narasi penyangkalan itu. Akun Pak Be di Kompasiana juga tidak merespons permintaan wawancara. Sementara itu, penelusuran Tempo menunjukkan bahwa Srivastava aktif menghadiri sejumlah pertemuan strategis bersama Prabowo, termasuk kunjungan ke Washington pada Oktober 2020 dan pertemuan dengan Menteri Pertahanan AS Christopher Miller di Jakarta pada Desember 2020, di mana ia terlihat hadir dalam sesi pembahasan pembelian pesawat tempur. Foto dan dokumen yang dihimpun Tempo memperkuat kedekatan personal dan institusional antara Srivastava dan jajaran pemerintah Indonesia pada masa itu.















