Sumbawanews.com,- Asosiasi Penyelenggara Jaringan Tetap Telekomunikasi (Jartatel) resmi berdiri dan mengumumkan inisiatif strategis untuk memangkas biaya relokasi infrastruktur telekomunikasi hingga 50 persen. Langkah ini diambil untuk mengatasi beban finansial berat yang selama ini ditanggung operator akibat kewajiban memindahkan kabel dan tiang saat pemerintah daerah melakukan penataan kota. Ketua Umum Jartatel, Raymond Hubertus, menjelaskan bahwa biaya relokasi yang sebelumnya berkisar antara Rp70.000 hingga Rp200.000 per meter persegi kini berhasil ditekan di bawah Rp70.000 per meter persegi melalui pendekatan kolaboratif tanpa melibatkan pihak ketiga. Jartatel memosisikan diri sebagai ekosistem operator, bukan vendor, sehingga keputusan teknis dan finansial tetap berada di tangan perusahaan yang terdampak.
Sekretaris Jenderal Jartatel, Sony Setiadi, menambahkan bahwa asosiasi ini lebih mengutamakan pendekatan preventif daripada relokasi paksa. Melalui perawatan berkala, perapihan, dan standarisasi jaringan, Jartatel berupaya menjaga estetika ruang publik tanpa mengganggu kelangsungan bisnis operator. Ia menekankan bahwa penataan kota tetap didukung, tetapi harus dilakukan secara sinergis dengan kebutuhan operasional penyedia layanan.
Dalam waktu dua minggu sejak pendaftaran dibuka, Jartatel telah menghimpun 142 perusahaan telekomunikasi berizin resmi yang tersebar dari Aceh hingga wilayah timur Indonesia. Jumlah ini menunjukkan kebutuhan nyata industri akan solusi kolektif yang adil dan berkelanjutan. Dengan total lebih dari 400 penyelenggara jaringan tetap di Indonesia, asosiasi ini berpotensi menjadi pemain kunci dalam mewujudkan infrastruktur telekomunikasi yang lebih efisien dan terjangkau.















