Home Serba Serbi Tekno AI Perkuat Peringatan Dini Banjir, Akurasi Tembus 93 Persen

AI Perkuat Peringatan Dini Banjir, Akurasi Tembus 93 Persen

Sumbawanews.com,- Pada 23 Juni 2026, proyek Transient Artifact and Continuous Learning System (TACLS) milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) membuktikan keunggulan kecerdasan buatan dalam memprediksi banjir bandang dengan akurasi hingga 93 persen. Sistem ini, yang dilatih menggunakan data historis 30 tahun dari jaringan satelit global (GNSS) dan kondisi cuaca ekstrem antara 2017–2023, mampu mengolah citra satelit, data sensor lapangan, dan informasi meteorologi dalam waktu hampir real-time—hanya 15 menit—untuk menghasilkan peringatan dini yang lebih cepat dan presisi. Juru Kampanye Urban dan Kebijakan Tata Ruang Walhi Nasional, Wahyu Eka Styawan, menilai transisi dari sistem konvensional yang akurasinya hanya 70–80 persen ke model berbasis AI sebagai langkah strategis untuk mengubah pendekatan manajemen bencana dari reaktif menjadi proaktif dan berbasis bukti ilmiah.

AI tidak hanya meningkatkan kecepatan dan akurasi prediksi, tetapi juga mampu mengidentifikasi hubungan kompleks antara perubahan tutupan lahan, sedimentasi sungai, intensitas hujan ekstrem, dan dampak perubahan iklim—faktor-faktor yang sulit ditangkap oleh model fisik atau empiris konvensional. Teknologi Explainable Artificial Intelligence (XAI) bahkan memperjelas penyebab utama risiko banjir, sementara Digital Twin dan model hidrodinamika memungkinkan simulasi berbagai skenario untuk mendukung perencanaan evakuasi. Menurut Wahyu, AI seharusnya tidak hanya menjadi alat peringatan, tetapi juga dasar evaluasi kebijakan, penindakan pelaku perusakan lingkungan, dan pencegahan penerbitan izin pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan.

NASA telah mengintegrasikan TACLS ke dalam sistem peringatan banjir bandang di California Selatan dan akan merilis perangkat lunak beserta data pelatihannya sebagai open source. Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Sekretaris Utama Guswanto mengakui potensi besar teknologi ini, tetapi menyoroti tantangan utama: kualitas dan ketersediaan data, integrasi antarsistem antara BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah, serta kebutuhan infrastruktur komputasi tinggi untuk menjalankan simulasi secara cepat. Ia menekankan bahwa sistem AI tidak bisa berjalan terpisah dari sistem eksisting—sinkronisasi adalah kunci keberhasilannya. Kesiapan pengguna di lapangan pun menjadi penentu apakah teknologi canggih ini benar-benar menyelamatkan nyawa atau hanya menjadi alat yang terparkir di server.

Previous articleEks Sekjen MPR Ma’ruf Cahyono Ditahan KPK Usai Pemeriksaan
Next articlePUBG Mobile 4.5 Hadirkan Dunia Naruto Shippuden, Desa Konoha Masuk Map