Sumbawanews.com,- Darializa Avila Chevalier, calon sosialis demokrat yang didukung Wali Kota New York Zohran Mamdani, memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di New York, memicu gelombang kecemasan di kalangan elit partai. Mantan penulis pidato Presiden Barack Obama, Jon Favreau, menyebut kemenangan tersebut sebagai tanda paling jelas bahwa sayap kiri progresif kini menguasai energi politik Partai Demokrat—bahkan mengungguli mesin tradisional yang selama puluhan tahun mengendalikan kandidasi partai.
Dalam podcast Pod Save America, Favreau menyatakan bahwa Avila Chevalier kemungkinan besar adalah kandidat paling kiri yang pernah menang dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat sepanjang sejarah modern. “Ini bukan sekadar kemenangan seorang calon,” katanya. “Ini adalah sinyal bahwa organisasi-organisasi di luar struktur partai—Justice Democrats, Democratic Socialists of America, Our Revolution—telah berhasil merebut momentum, dana, dan daya tarik massa.”
Rekan Favreau, Dan Pfeiffer, mantan penasihat politik Obama, mempertegas bahwa kekalahan sejumlah petahana dari kandidat progresif bukan kejadian kebetulan. “Mereka lebih terorganisasi. Lebih agresif. Lebih kreatif. Dan mereka tidak lagi menunggu izin dari partai,” ujarnya. Pfeiffer memperingatkan bahwa infrastruktur politik Demokrat kini berada dalam krisis legitimasi, terutama di tengah meningkatnya ketidakpuasan terhadap kebijakan elit yang dianggap terlalu konservatif.
Avila Chevalier, yang mengusung platform radikal seperti penghapusan penegakan perbatasan, penolakan deportasi imigran, dan dukungan penuh terhadap gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) terhadap Israel, menjadi simbol perubahan ini. Favreau secara khusus menyoroti kehadirannya dalam demonstrasi anti-Israel pada 8 Oktober 2023, sehari setelah serangan Hamas ke Israel. Ia menekankan bahwa hingga kini, Avila Chevalier tidak pernah meminta maaf atas keikutsertaannya dalam aksi tersebut, bahkan secara terbuka membela posisinya.
“Di sinilah letak titik kritisnya,” ujar Favreau. “Ini bukan soal ideologi yang berbeda. Ini soal apakah partai masih bisa mempertahankan basisnya yang moderat—termasuk komunitas Yahudi dan kelas menengah—di tengah pergeseran ideologi yang semakin ekstrem.”
Kemenangan Avila Chevalier bukan hanya simbolis. Ia mengalahkan petahana yang didukung oleh aparatus partai, dana besar, dan jaringan kampanye klasik. Ia menang dengan strategi digital yang dipimpin oleh gerakan grassroots, mengandalkan relawan, donasi kecil, dan narasi yang menyentuh kekhawatiran ekonomi kaum pekerja. Dalam konteks ini, kemenangannya dianggap sebagai terobosan yang secara sistemik menggoyahkan dominasi elite Demokrat yang selama ini mengandalkan koneksi, keuangan, dan kekuasaan institusional.
Kepanikan yang muncul di kalangan mantan pejabat Obama bukanlah reaksi emosional semata. Ia mencerminkan kegagalan partai untuk merespons perubahan demografis dan ideologis di basis pemilih muda, urban, dan kelas pekerja. Bagi banyak pengamat, Avila Chevalier bukan hanya kandidat—ia adalah manifestasi dari sebuah transisi politik yang tak bisa diabaikan lagi.















