Sumbawanews.com,- Kamis, 2 Juli 2026, pukul 03.00 WIB, Seattle Stadium menjadi saksi pertandingan sengit antara Belgia dan Senegal dalam babak 32 besar Piala Dunia 2026. Laga ini disiarkan langsung oleh TVRI, dan meski Belgia diunggulkan berdasarkan peringkat FIFA (ke-10) dibanding Senegal (ke-18), banyak indikator yang menunjukkan bahwa Singa Teranga siap menggoyang prediksi.
Belgia, di bawah asuhan Rudi Garcia, menutup fase grup tanpa kekalahan, mencetak delapan gol dan menghasilkan 73 peluang—angka tertinggi di antara tim-tim lain. Kevin De Bruyne menjadi otak serangan dengan 16 peluang diciptakan, sementara Leandro Trossard memimpin daftar pencetak gol dengan dua kali bersarang. Tim Setan Merah juga unggul dalam penguasaan bola, umpan silang, dan pergerakan di sepertiga akhir lapangan, menunjukkan dominasi taktis yang konsisten.
Namun, Senegal bukan lawan yang bisa diabaikan. Meski kalah 1-3 dari Prancis dan 2-3 dari Norwegia, tim asuhan Pape Thiaw justru menunjukkan ketahanan mental luar biasa. Mereka menang telak 5-0 atas Irak untuk lolos, dan dalam dua laga terakhir sebelumnya, tetap menguasai bola dan menciptakan lebih banyak peluang meski kalah. Di semifinal Piala Afrika 2025, Senegal menyingkirkan Mesir 1-0—tim yang sebelumnya bermain imbang 1-1 melawan Belgia di fase grup Piala Dunia ini.
Kunci kekuatan Senegal terletak pada keseimbangan antara pengalaman dan energi muda. Ismaila Sarr, pencetak tiga gol sepanjang fase grup, menjadi ancaman utama di sayap, dengan 12 peluang diciptakan dan kecepatan yang mematikan. Sadio Mane, meski tak mencetak gol, tetap menjadi jantung serangan dengan 15 umpan silang dan 124 kali membuka ruang bagi rekan-rekannya. Di tengah lapangan, Idrissa Gueye menjadi mesin penghubung dengan 223 umpan dan 80 upaya melewati lawan.
Di lini belakang, Senegal menghadapi tantangan besar. Edouard Mendy, kiper utama, cedera lutut dan dinyatakan tidak bisa bermain, memaksa tim memercayakan gawang pada pengganti. Kalidou Koulibaly, yang tampil kurang meyakinkan melawan Norwegia, berpotensi digantikan oleh Abdoulaye Seck yang tampil impresif saat melawan Irak.
Fakta sejarah juga mendukung Belgia: mereka hanya sekali kalah dari tim Afrika dalam enam pertemuan Piala Dunia terakhir. Sebaliknya, Senegal belum pernah menang melawan tim Eropa dalam empat pertandingan terakhir di turnamen ini—semua kekalahan datang dari tim kelas atas: Belanda, Inggris, Prancis, dan Norwegia.
Namun, di balik statistik, ada satu hal yang tak terukur: semangat juang. Senegal datang sebagai juara bertahan Piala Afrika 2025—meski gelar itu akhirnya diraih Maroko lewat walkout di final—dan mereka membawa mentalitas tim yang tak kenal menyerah. Mereka tidak hanya bertahan, tapi mengancam, menguasai permainan, dan mengandalkan kecepatan dan disiplin taktis.
Belgia memiliki segalanya: kualitas individu, kedalaman skuad, dan pengalaman turnamen. Tapi Senegal punya sesuatu yang lebih berbahaya: keberanian untuk percaya bahwa mereka bisa menang, bahkan saat semua prediksi menentang mereka.
Prediksi: Belgia menang tipis 2-1. Tapi jangan heran jika Senegal membuat kejutan besar—karena dalam sepak bola, kadang yang paling berbahaya bukanlah yang paling unggul, tapi yang paling tak mau kalah.















