Sumbawanews.com,- Timnas Belanda tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah dikalahkan Maroko lewat adu penalti, dan kegagalan eksekusi penalti Justin Kluivert memicu perbandingan memilukan dengan sang ayah, Patrick Kluivert—mantan pelatih Timnas Indonesia.
Dalam laga yang berlangsung di Stadion AT&T, Arlington, pada 29 Juni 2026, Belanda unggul 1-0 lewat gol Cody Gakpo, namun Maroko menyamakan skor lewat Issa Diop di menit ke-90+3. Laga berlanjut ke adu penalti, di mana tiga penendang Belanda—Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville—semuanya gagal mengeksekusi tendangannya. Justin, yang menjadi penendang ketiga, menembak bola melenceng ke tiang kanan gawang, memicu kekalahan 3-0 dalam adu penalti.
Kegagalan Justin bukan sekadar kecelakaan teknis. Ia mengulangi nasib sang ayah, Patrick Kluivert, yang 26 tahun lalu juga gagal mengeksekusi penalti di hari yang sama—29 Juni—dalam laga semifinal Euro 2000 melawan Italia. Saat itu, Patrick menembak bola ke tiang kanan gawang Italia, dan Belanda kalah dalam adu penalti. Kali ini, Justin melakukan hal yang sama: arah tembakannya persis sama, waktu kejadian identik, dan hasilnya pun berakhir dengan kegagalan tim nasional.
Fenomena ini langsung menjadi viral di media sosial, terutama di akun X @ataquefutbolero yang menulis: “Ayah dan anak, eksekusi yang sama, dengan Belanda tersingkir, di hari yang sama—dengan selisih 26 tahun. Luar biasa.”
Patrick Kluivert, yang pernah melatih Timnas Indonesia pada 2023 hingga 2024, kini tidak lagi menjabat sebagai pelatih tim nasional, tetapi namanya kembali disebut dalam konteks ini bukan karena jabatannya, melainkan karena darah dan takdir sepak bola yang mengalir dalam keluarganya. Justin, yang bermain untuk tim nasional Belanda sejak 2023, adalah putra satu-satunya dari Patrick yang memilih jalur profesional di sepak bola Eropa.
Ronald Koeman, pelatih Belanda yang baru saja mengakhiri masa jabatannya hanya sehari setelah kekalahan ini, mengakui bahwa kegagalan penalti menjadi titik balik yang tak terduga. “Kami memilih penendang berdasarkan kepercayaan, bukan sejarah. Tapi hari ini, sejarah berbicara lebih keras dari rencana,” ujar Koeman dalam konferensi pers usai laga.
Sementara itu, di Indonesia, fans sepak bola kembali mengingat peran Patrick Kluivert dalam membangun kembali mentalitas timnas pada masa kepelatihannya. Meski tak membawa tim lolos ke Piala Asia, ia dikenal karena memperkenalkan pendekatan psikologis dan disiplin taktis yang belum pernah ada sebelumnya di timnas.
Kini, dengan kegagalan Belanda yang berulang di turnamen besar, dan keanehan takdir yang menyatukan ayah dan anak dalam satu momen sejarah, nama Kluivert kembali menjadi simbol—bukan hanya dari kehebatan, tapi juga dari beban yang tak terhindarkan dalam darah seorang pesepak bola.















