Sumbawanews.com,- Luka Modric tak lagi bermain untuk mengejar gelar. Di usia 40 tahun, kapten Kroasia ini memilih menikmati setiap langkah, setiap umpan, setiap detik di atas lapangan—karena ia tahu, ini adalah pertandingan terakhirnya di Piala Dunia.
Di ajang Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, Modric menjadi jantung timnas Kroasia yang berhasil lolos ke babak 32 besar, menghadapi Portugal pada 3 Juli mendatang. Di balik ketenangannya di tengah tekanan besar, ia mengaku sadar: ini adalah babak penutup dari perjalanan internasionalnya. September nanti, ia akan berusia 41 tahun—usia yang hampir tak pernah terbayangkan bagi seorang gelandang bertahan di puncak dunia sepak bola.
Meski kontraknya dengan AC Milan berakhir pada 30 Juni 2026, Rossoneri masih terbuka memberinya perpanjangan satu tahun. Namun, Modric belum mengambil keputusan. “Saya tidak memikirkan masa depan sekarang,” ujarnya dalam wawancara dengan Gazzetta dello Sport. “Saya hanya ingin menikmati setiap sesi latihan, setiap suporter yang berteriak, setiap peluit yang menandai awal pertandingan. Ini bukan tentang pensiun atau tidak. Ini tentang merasakan sepak bola sebelum benar-benar berhenti.”
Pemain yang memenangkan Ballon d’Or pada 2018 dan menjadi tulang punggung Kroasia di final Piala Dunia 2018 itu kini menjadi simbol ketahanan dan ketenangan. Di tengah generasi muda yang menggebrak, ia tetap mengendalikan tempo permainan dengan presisi yang tak tergoyahkan. Rekor Piala Dunia kelima yang ia raih—menjadi pemain tertua yang bermain di babak gugur—hanya menambah legenda yang sudah ia bangun selama hampir dua dekade.
Kroasia sendiri masih bertahan dengan harapan besar. Meski tak lagi dianggap favorit, kehadiran Modric memberi kepercayaan diri yang tak ternilai. Di ruang ganti, ia bukan hanya kapten, tapi guru yang diam-diam mengajarkan bagaimana menjadi legenda—bukan dengan gol, tapi dengan keteguhan.
Ketika pertandingan melawan Portugal berlangsung, dunia akan menatapnya bukan sebagai pemain yang ingin menang, tapi sebagai pria yang ingin merasakan setiap denyut nadi sepak bola—sebelum akhirnya menyerahkan tongkat estafet pada generasi berikutnya.














