Home Serba Serbi Tekno Burung Endemik Selandia Baru Alami Lompatan Evolusi Sejuta Tahun Lalu

Burung Endemik Selandia Baru Alami Lompatan Evolusi Sejuta Tahun Lalu

Sumbawanews.com,- Fosil-fosil burung yang ditemukan di dalam gua Moa Eggshell Cave, dekat Waitomo di Pulau Utara Selandia Baru, mengungkap perubahan besar dalam keanekaragaman spesies burung yang terjadi sekitar satu juta tahun lalu—jauh sebelum manusia tiba di negeri itu. Temuan ini mengisi celah penting dalam catatan paleontologis yang selama ini menghambat pemahaman ilmuwan tentang kapan dan bagaimana satwa endemik Selandia Baru mengalami transformasi evolusioner.

Tim peneliti yang dipimpin paleontolog Trevor Worthy dari Flinders University mengidentifikasi 21 tulang burung dari 12 spesies berbeda, yang terperangkap di antara dua lapisan abu vulkanik dengan usia yang akurat. Lapisan lebih tua berasal dari letusan Gunung Ngaroma sekitar 1,55 juta tahun lalu, sementara lapisan lebih muda berasal dari letusan Gunung Kidnappers sekitar satu juta tahun lalu. Semua fosil yang berada di bawah lapisan abu muda itu, oleh karena itu, berusia lebih dari satu juta tahun.

Yang mengejutkan, dari 12 spesies burung yang ditemukan, setidaknya empat—dan kemungkinan enam—tidak lagi muncul di situs fosil yang lebih muda. Artinya, sekitar sepertiga hingga setengah populasi burung di wilayah itu menghilang atau berubah secara drastis dalam waktu geologis yang relatif singkat. Sebagian diperkirakan punah, sebagian lagi berevolusi menjadi bentuk baru yang masih hidup hingga kini.

Dua spesies baru pun diidentifikasi: *Strigops insulaborealis*, kerabat purba burung kakapo yang kemampuan memanjatnya jauh lebih terbatas dibandingkan spesies modern, dan *Porphyrio claytongreenei*, seekor burung rail besar yang tak bisa terbang dan diduga sebagai nenek moyang bersama takahe yang masih hidup serta moho yang telah punah.

Berbeda dengan burung, fosil katak asli Selandia Baru dari genus *Leiopelma* menunjukkan stabilitas evolusioner yang luar biasa. Bentuk mereka hampir identik dengan katak yang hidup hingga masa terkini, menandakan bahwa perubahan iklim dan vulkanisme tidak menggoyahkan kelompok ini.

Para peneliti menduga, ledakan Gunung Kidnappers yang menutupi sekitar 44.000 kilometer persegi Pulau Utara dengan abu setebal 10 meter, bersama serangkaian letusan susulan, memisahkan populasi burung secara geografis dalam jangka panjang. Pemisahan ini memicu isolasi evolusioner—sebuah mekanisme kunci dalam pembentukan spesies baru. Sementara itu, katak yang lebih kecil, lebih tersembunyi, dan bergantung pada lingkungan lembap tetap bertahan tanpa perubahan signifikan.

Penelitian ini, yang dipublikasikan dalam jurnal *Alcheringa: An Australasian Journal of Palaeontology* pada Januari 2026, menegaskan bahwa gelombang kepunahan dan pergantian spesies di Selandia Baru bukanlah fenomena yang baru dimulai setelah kedatangan manusia. Sebaliknya, alam sendiri telah menjadi agen utama dalam membentuk keanekaragaman hayati pulau itu jauh sebelum manusia menginjakkan kaki.

“Kami baru menggali sebagian kecil lantai gua,” kata Worthy. “Masih banyak potensi untuk menemukan lebih banyak spesies—dan mungkin lebih banyak kejutan—dalam catatan fosil yang belum terungkap.”

Previous articleKodim 1714/Puncak Jaya dan Polri Laksanakan Patroli Cipta Kondisi Kabupaten Puncak Jaya Dalam Kondisi Aman
Next articleAnak 4 Tahun Tewas Terperosok Lubang Proyek, Pramono: Silakan Tuntut Pemprov DKI