Sumbawanews.com,- Presiden FIFA Gianni Infantino menjadi pusat kritik setelah terungkap ia menggunakan jet pribadi untuk menghadiri 24 pertandingan fase grup Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dalam waktu kurang dari dua minggu, ia melakukan 27 penerbangan, menempuh jarak total 50.122 kilometer—lebih dari tiga kali putaran bumi—dengan durasi terbang mencapai 66 jam.
Menurut laporan BBC Sport, perjalanan tersebut diduga menggunakan Gulfstream G650ER, jet eksekutif berkapasitas tinggi yang menghasilkan sekitar 516 ton emisi karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Angka itu setara dengan jejak karbon tahunan 78 orang rata-rata di seluruh dunia. Salah satu rute paling ekstrem terjadi ketika Infantino terbang dari Vancouver ke Miami sejauh 4.507 kilometer, lalu dalam satu hari yang sama melanjutkan perjalanan dari Miami ke Seattle, lalu ke Los Angeles untuk menyaksikan dua laga berbeda.
Pola pergerakan ini memicu kecaman dari kalangan aktivis lingkungan dan pakar transportasi berkelanjutan. Freddie Daley dari jaringan Cool Down menilai tindakan itu sebagai bukti nyata ketidakseriusan kepemimpinan FIFA terhadap komitmen nol emisi yang selama ini diiklankan. Sementara Denise Auclair, pakar transportasi ramah lingkungan, menegaskan bahwa jet pribadi menghasilkan emisi lima hingga 14 kali lebih tinggi daripada pesawat komersial, dan hampir 50 kali lebih besar dibanding perjalanan kereta api.
FIFA sendiri sejak tahun 2021 telah menjanjikan upaya netralitas karbon dalam penyelenggaraan Piala Dunia, termasuk melalui program offset emisi dan penggunaan transportasi berkelanjutan. Namun, kehadiran Infantino yang bergerak secara intensif melintasi benua dengan jet pribadi justru bertentangan dengan narasi itu—mengundang pertanyaan apakah komitmen lingkungan FIFA hanya sebatas kampanye publik, atau benar-benar dijalankan di tingkat tertinggi organisasi.
Kritik pun kian mengeras ketika banyak suporter dan tim nasional harus menempuh perjalanan panjang dengan transportasi umum atau terkendala visa, sementara pemimpin tertinggi sepakbola dunia bepergian dengan kemewahan yang tak terjangkau bagi kebanyakan orang. Dalam konteks Piala Dunia yang diklaim sebagai ajang paling global, tindakan Infantino justru menonjolkan ketimpangan yang berlawanan dengan semangat inklusivitas yang dijunjung organisasi itu.















