Sumbawanews.com,- Dua gempa dahsyat yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026 telah menelan korban tewas hingga 1.430 jiwa, dengan lebih dari 51.000 orang masih dinyatakan hilang. Gempa pertama berkekuatan magnitudo 7,2 dan kedua 7,5 terjadi hanya selang 39 detik, berpusat di wilayah Yaracuy—masing-masing 23 kilometer tenggara Yumare dan 23,9 kilometer timur laut San Felipe. Kekuatan gempa yang luar biasa meruntuhkan bangunan, memicu longsor, dan memutus akses jalan, membuat sebagian besar wilayah terisolasi.
Di tengah kehancuran, tim penyelamat pemerintah terbatas jumlahnya, sehingga warga lokal terpaksa menggali reruntuhan dengan tangan kosong demi menemukan sanak saudara yang tertimbun. Di kota-kota seperti La Guaira, warga berbondong-bondong membantu evakuasi tanpa peralatan memadai, sementara harapan menemukan korban hidup semakin tipis seiring berakhirnya masa kritis 72 jam pasca-gempa.
Presiden Majelis Nasional Jorge Rodríguez mengakui tragedi ini sebagai bencana terbesar dalam sejarah modern Venezuela. “Setiap orang yang berhasil diselamatkan adalah sebuah keajaiban,” katanya. “Kami tidak akan menyembunyikan apa pun mengenai besarnya tragedi ini.”
Pemerintah, melalui Pelaksana Tugas Presiden Delcy Rodríguez, mengaku telah mengerahkan seluruh sumber daya nasional untuk menangani darurat. La Guaira telah dimiliterisasi untuk mempercepat distribusi bantuan dan menjaga keamanan. Pemerintah juga menerima bantuan dari 21 negara, termasuk lebih dari 2.000 personel penyelamat, 96 anjing pelacak, 40 kendaraan kargo, 32 kendaraan angkut, 103,7 metrik ton peralatan pencarian, dan tiga metrik ton perlengkapan medis.
Sejak gempa utama, lebih dari 430 gempa susulan telah tercatat, memperparah ketakutan masyarakat dan menghambat upaya penyelamatan. Pemerintah terus mendistribusikan makanan, air bersih, dan obat-obatan kepada para penyintas, sementara lembaga kemanusiaan internasional memperingatkan bahwa risiko wabah penyakit dan kelaparan mulai mengancam di kamp-kamp sementara.
Dengan infrastruktur yang sudah rapuh sebelum bencana, Venezuela kini menghadapi tantangan ganda: membangun kembali kota-kota yang hancur sambil menyelamatkan nyawa yang masih tersisa di balik puing-puing.















