Sumbawanews.com,- Meski telah memenuhi syarat kewarganegaraan Indonesia dan menjadi salah satu penyerang paling produktif dalam sejarah Liga 1, Ezechiel N’Douassel tidak akan pernah bisa memakai jersey Timnas Indonesia. Larangan ini bukan karena ia gagal memenuhi persyaratan administratif, melainkan karena aturan ketat FIFA yang mengikat pemain yang pernah tampil di tim nasional resmi negara lain.
Pemain asal Chad itu, yang akrab disapa “King Eze”, telah mencetak lebih dari 130 gol dalam lebih dari 200 penampilan di kompetisi domestik Indonesia sejak kedatangannya pada 2017. Karier gemilangnya bersama Persib Bandung, Bhayangkara FC, hingga Bekasi City menjadikannya ikon bagi para suporter, sekaligus calon utama naturalisasi yang diincar PSSI untuk memperkuat lini depan Garuda di bawah arahan John Herdman.
Namun, di balik catatan gol yang memukau, ada satu hal yang tak bisa diabaikan: Ezechiel pernah membela Timnas Chad dalam pertandingan resmi FIFA, termasuk kualifikasi Piala Dunia dan Piala Afrika. Ia bahkan pernah memegang ban kapten. Menurut Peraturan FIFA tentang Perpindahan Asosiasi (Article 18), seorang pemain yang telah bermain dalam pertandingan resmi untuk satu negara — bahkan hanya sekali — tidak diperbolehkan berganti kewarganegaraan sepak bola, kecuali memenuhi syarat sangat ketat yang tidak berlaku baginya.
Kewarganegaraan sipil Indonesia yang sedang diproses oleh Kementerian Hukum dan HAM tidak menggugurkan batasan ini. FIFA memisahkan secara tegas antara status kewarganegaraan sipil dan kelayakan bermain untuk tim nasional sepak bola. Dalam pandangan FIFA, Ezechiel tetap dianggap sebagai pemain internasional Chad, dan tidak ada mekanisme yang memungkinkan ia beralih loyalitas sepak bola ke Indonesia.
Kegagalan ini menjadi pukulan telak bagi upaya PSSI memperkuat skuad melalui naturalisasi. Ezechiel bukan sekadar striker tajam — ia adalah simbol konsistensi, dedikasi, dan kecintaan terhadap sepak bola Indonesia. Ia tinggal di Indonesia selama lebih dari tujuh tahun, beradaptasi dengan budaya, bahasa, dan bahkan menjadi bagian dari keluarga beberapa pemain lokal.
Sementara itu, PSSI terus bergerak mencari alternatif. Nama-nama seperti Luke Vickery dan Mitchell Baker kini menjadi fokus baru, sementara Thom Haye dan Mees Hilgers tetap menjadi opsi yang lebih aman secara regulasi. Tapi bagi banyak penggemar, kehilangan Ezechiel bukan hanya soal kehilangan gol — ini adalah kehilangan simbol: seorang pria yang telah menjadikan Indonesia sebagai rumahnya, tetapi tetap dilarang memperjuangkan bendera merah putih di atas lapangan.
FIFA memang punya aturan. Tapi di mata para Bobotoh, suporter Bhayangkara, dan ribuan penggemar sepak bola Indonesia, Ezechiel N’Douassel sudah lama menjadi bagian dari Garuda — meski tak diakui oleh statuta.















