Sumbawanews.com,- Piala Dunia 2026 menjadi ajang uji coba ketat terhadap aturan baru FIFA yang bertujuan mempercepat ritme pertandingan. Di tengah gempuran kritik terhadap aturan lima detik untuk lemparan ke dalam, Andy Robertson, bek kiri tim nasional Skotlandia, justru menjadi contoh sempurna bagaimana memanfaatkan aturan tanpa melanggarnya.
Dalam laga Grup C melawan Brasil, Robertson tidak langsung mengambil bola saat wasit menyerahkan bola untuk lemparan ke dalam. Sebaliknya, ia meminta rekan-rekannya berpindah posisi, menciptakan ruang dan waktu. Baru setelah semua pemain siap, ia baru memegang bola—dan melemparnya dalam waktu kurang dari lima detik. Tindakan ini langsung menjadi viral di media sosial, dipuji sebagai kecerdikan taktis yang halus, bukan pelanggaran.
FIFA memperkenalkan aturan lima detik untuk lemparan ke dalam dan tendangan gawang pada Piala Dunia 2026 sebagai bagian dari upaya serius mengurangi buang-buang waktu. Jika pemain gagal melempar atau menendang bola dalam waktu yang ditentukan, wasit akan memberikan ganti gawang atau tendangan gawang kepada lawan. Namun, aturan ini tidak melarang pemain menunggu kesiapan tim—hanya melarang penundaan tanpa alasan.
Robertson, yang kini menjadi kapten Skotlandia setelah kepergian Steven Fletcher, tidak hanya memahami aturan secara harfiah, tetapi juga memahami semangat di baliknya. Wasit sempat mengingatkan dirinya untuk segera bertindak, namun tidak memberi sanksi karena tidak ada pelanggaran. “Ini bukan tentang menipu aturan, tapi menghormati ritme permainan,” ujar Robertson usai laga.
Taktik serupa juga terlihat pada beberapa tim lain, terutama tim-tim yang mengandalkan permainan terstruktur seperti Spanyol dan Prancis. Namun, Robertson menjadi simbol karena kejelian dan ketenangannya di bawah tekanan. Di tengah kritik dari pelatih seperti Thomas Tuchel yang khawatir aturan ini akan mengganggu aliran alami permainan, Robertson justru menunjukkan bahwa disiplin dan kecerdasan bisa menjadi solusi.
FIFA sendiri menyatakan bahwa insiden ini akan menjadi bahan evaluasi. “Kami ingin menghentikan penundaan, bukan menghukum kecerdasan,” ujar perwakilan komite peraturan FIFA dalam konferensi pers pasca-laga.
Dengan Skotlandia yang kini berada di posisi ketiga Grup C, Robertson bukan hanya menjadi tumpuan di pertahanan, tetapi juga simbol perubahan cara berpikir para pemain dalam menghadapi aturan modern. Di Piala Dunia yang semakin cepat, kecerdikan seperti ini mungkin justru yang akan menentukan siapa yang bertahan—bukan hanya siapa yang paling kuat.















