Home Berita Internasional Inggris dan Swiss Rekor Suhu Juni, Gelombang Panas Ancam Nyawa

Inggris dan Swiss Rekor Suhu Juni, Gelombang Panas Ancam Nyawa

Sumbawanews.com,- Gelombang panas ekstrem melanda Eropa Barat pada akhir Juni 2026, memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah di Inggris dan Swiss. Di Inggris, suhu mencapai 36,4 derajat Celsius di Yeovilton, Somerset—melampaui rekor sebelumnya yang tercatat hanya sehari sebelumnya di Gosport. Angka ini sekaligus mengalahkan rekor lama 35,6 derajat Celsius yang bertahan sejak 1976 di Southampton. Sementara itu, di Swiss, MeteoSuisse melaporkan suhu mencapai 37,1 derajat Celsius, pertama kalinya dalam sejarah bulan Juni melewati ambang 37 derajat, memecahkan rekor yang sebelumnya berdiri sejak 1947. Di Basel, lokasi yang sama dengan rekor 1947, suhu bahkan menyentuh 38 derajat Celsius.

Kondisi ini bukan hanya soal angka, tapi dampak nyata bagi kehidupan. Cardiff, ibu kota Wales, mencatat malam terpanas dalam sejarah Juni, dengan suhu minimum tidak turun di bawah 23,5 derajat Celsius. Lebih dari 100 juta orang di Eropa Barat mengalami suhu di atas 35 derajat Celsius pada hari yang sama. Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) memperpanjang peringatan merah selama 24 jam, ini adalah kali kedua peringatan tertinggi dikeluarkan dalam satu musim. Di tengah panas yang tak kunjung reda, sekolah-sekolah ditutup, perjalanan kereta dibatalkan, dan sistem kesehatan kewalahan.

Para ilmuwan menegaskan, gelombang panas ini bukan kejadian alam biasa. Pemanasan global akibat emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil telah meningkatkan suhu ekstrem di Eropa sekitar 2 hingga 4 derajat Celsius dibandingkan dengan kondisi sebelum krisis iklim. Data menunjukkan, lebih dari 10.000 orang meninggal di Inggris akibat gelombang panas antara 2020 dan 2024. Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim, memperingatkan bahwa tanpa penghentian total emisi karbon, bencana serupa akan menjadi “norma baru”—dengan kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan yang semakin ganas.

Respons pemerintah mulai muncul, meski terlambat. Parlemen Inggris baru saja menyetujui target hukum untuk memangkas emisi 87 persen pada 2040, berdasarkan rekomendasi Komite Perubahan Iklim yang menyatakan infrastruktur negara itu kini “dibangun untuk iklim yang sudah tidak ada lagi.” Di London, Wali Kota Sadiq Khan meluncurkan rencana pertama penanganan gelombang panas: renovasi rumah rentan panas, penanaman pohon, dan penyediaan akses ke kolam renang dan area bermain air. Studi 2025 menemukan, 80 persen rumah di Inggris kini mengalami panas berlebih saat musim panas—empat kali lipat dari satu dekade lalu.

Sementara itu, National Education Union mendesak pemerintah segera memasang pendingin ruangan di sekolah-sekolah, yang hingga kini belum menjadi standar nasional. Di balik angka-angka meteorologi yang mencengangkan, tersimpan krisis kemanusiaan yang semakin nyata: masyarakat yang kepanasan, anak-anak yang belajar di ruang tanpa angin, dan lansia yang berjuang bertahan hidup di tengah suhu yang tak lagi bisa diabaikan. Gelombang panas bukan lagi ancaman masa depan—ia sudah berada di pintu rumah kita.

Previous articleSamsung Galaxy A27 5G Rilis 3 Juli, Dukungan Update Android 6 Tahun Jadi Daya Tarik Utama
Next articleKemensos Diminta Hentikan Libatkan Taruna Akmil di Sekolah Rakyat