Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan kekecewaan tajam terhadap sejumlah sekutu Eropa di tengah ketegangan militer dengan Iran, dalam pertemuan tertutup dengan Sekjen NATO Mark Rutte di Oval Office, Rabu (24/6). Trump mengeluh bahwa Italia, Inggris, Jerman, Prancis, dan Spanyol sama sekali tidak menunjukkan dukungan militer atau politik saat AS beroperasi di wilayah tersebut.
“Saya kecewa dengan Italia. Saya kecewa dengan Inggris. Kami kecewa dengan Jerman dan Prancis. Kami kecewa dengan sebagian besar dari mereka,” ujar Trump, menurut laporan Anadolu Agency. Ia menekankan bahwa AS mampu menghancurkan target-target Iran dalam minggu pertama operasi—tanpa bantuan—namun tetap mengharapkan simbolisasi solidaritas dari aliansi strategisnya.
Trump tak hanya menyindir negara-negara yang diam, tapi juga mengkritik keras Spanyol. “Spanyol itu seperti pertunjukan horor. Mereka tidak mau bayar apa pun. Mereka pikir akan dapat keuntungan cuma-cuma,” katanya, mengacu pada ketidakpatuhan terhadap komitmen belanja pertahanan NATO. Ia menilai sikap tersebut sebagai pengkhianatan terhadap prinsip dasar aliansi pertahanan transatlantik.
Meski demikian, Trump memuji Rutte secara pribadi, menyebutnya sebagai sosok yang dihormati dan “sangat kooperatif”. Mantan Perdana Menteri Belanda itu, yang kini menjabat sebagai Sekjen NATO, berusaha meredam amarah Trump dengan menegaskan bahwa ketidaksesuaian dari sejumlah negara anggota hanyalah “kasus terisolasi”, bukan cerminan sikap keseluruhan aliansi.
“Saya tahu ada beberapa kasus yang membuat Anda sangat kecewa, tetapi secara umum, sekutu Eropa Anda mendukung Anda,” kata Rutte, menekankan bahwa NATO tetap berkomitmen pada keamanan bersama dan kemitraan strategis dengan AS.
Pertemuan ini terjadi dalam konteks kritis: hanya dua pekan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi NATO di Ankara, Turki, pada 7 Juli. Kunjungan Rutte ke Gedung Putih dianggap sebagai upaya diplomatik untuk mencegah retaknya solidaritas aliansi menjelang pertemuan puncak yang akan menentukan arah kebijakan pertahanan Eropa-Amerika di tengah eskalasi di Timur Tengah.
Para pengamat memandang pernyataan Trump bukan sekadar kemarahan spontan, tapi bagian dari strategi politik jangka panjangnya untuk memaksa negara-negara Eropa meningkatkan belanja pertahanan dan mengambil peran aktif dalam operasi militer AS. Ia menekankan bahwa AS tidak membutuhkan bantuan—tapi menginginkan pengakuan.
Dengan nada tegas, Trump menutup pembicaraan: “Kita akan membahas apa yang terjadi, dan kita akan lihat apa yang akan terjadi.” Kalimat itu menjadi isyarat bahwa tekanan terhadap sekutu-sekutu Eropa belum berakhir—bahkan mungkin baru mulai.















