Sumbawanews.com,- Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah memastikan program Latihan Dasar Militer (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih tetap berlanjut, meski tiga peserta meninggal dunia selama pelatihan di satuan TNI pada minggu lalu. Pemerintah menegaskan bahwa evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pelaksanaan program sedang berjalan paralel dengan kelanjutan pendidikan, tanpa menghentikan rangkaian kegiatan.
Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Kemenkop, Destry Anna Sari, menjelaskan bahwa Panitia Seleksi Nasional (Panselnas)—yang terdiri dari sejumlah kementerian dan lembaga—sedang meninjau seluruh aspek program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), mulai dari seleksi awal, pemeriksaan kesehatan, hingga mekanisme pemantauan selama pelatihan. “Setiap pembelajaran dari insiden ini akan menjadi dasar penyempurnaan kebijakan ke depan agar program berjalan lebih aman, profesional, dan akuntabel,” ujar Destry dalam konfirmasi pada Kamis, 25 Juni 2026.
Tiga korban yang meninggal adalah Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, dan Yonanda Muhammad Taufiq. Novia, yang mengikuti pelatihan di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI AU di Jakarta, meninggal pada 23 Juni 2026, enam hari setelah pelatihan dimulai. Anisa meninggal akibat heat stroke pada 18 Juni di Satuan Pendidikan Resimen Induk Kodam Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Sementara Yonanda wafat pada hari pertama pelatihan, 17 Juni, di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur TNI AD di Baturaja, Sumatera Selatan, karena cardiac arrest.
Kemenkop menegaskan bahwa ketiga peserta telah melewati proses seleksi dan pemeriksaan kesehatan sesuai standar nasional sebelum dinyatakan layak mengikuti pelatihan militer. Pemerintah juga telah memberikan dukungan penuh kepada keluarga korban, termasuk penanganan administratif dan bantuan sosial sesuai prosedur yang berlaku.
Meski mendapat tekanan dari sejumlah organisasi hak asasi manusia yang meminta penghentian program, Kemenkop menegaskan bahwa pelatihan militer merupakan bagian integral dari pembentukan karakter dan kedisiplinan para manajer koperasi desa, yang ditugaskan memimpin transformasi ekonomi di tingkat akar rumput. “Kami memahami keprihatinan publik, tetapi ini bukan soal militerisasi, melainkan penguatan kapasitas kepemimpinan dalam konteks kebutuhan nyata pembangunan pedesaan,” tambah Destry.
Program SPPI sendiri merupakan inisiatif besar pemerintah untuk melatih 30.000 manajer Koperasi Desa dan 5.000 pengelola Kampung Nelayan Merah Putih dalam waktu singkat. Pelatihan yang berlangsung di berbagai satuan TNI ini dirancang untuk menanamkan nilai-nilai kerja keras, ketahanan, dan manajemen terpadu—kunci utama dalam mewujudkan kemandirian ekonomi desa.
Kritik terhadap metode pelatihan tetap menjadi bagian dari diskursus publik, namun pemerintah berkomitmen untuk tidak mengabaikan suara masyarakat. Evaluasi yang sedang berjalan akan mencakup rekomendasi dari para ahli kesehatan, hukum, dan sosial, serta melibatkan perwakilan keluarga korban dalam proses penyusunan standar operasional baru.
Dengan demikian, meski duka masih menyelimuti keluarga ketiga korban, langkah pemerintah tetap berfokus pada dua tujuan sekaligus: menghormati nyawa yang hilang, sekaligus memastikan misi pembangunan pedesaan tidak terhenti.















