Sumbawanews.com,- Florida – Tangis haru Neymar tak bisa dibendung usai menit ke-76, saat ia turun menggantikan Matheus Cunha dalam laga Brasil melawan Skotlandia di Piala Dunia 2026. Dengan seragam timnas yang telah ia kenakan selama lebih dari satu dekade, sang bintang akhirnya bisa kembali bermain di panggung terbesar sepak bola dunia—setelah melewati masa pemulihan panjang dari cedera yang sempat mengancam kariernya.
Dalam pertandingan yang berakhir 3-0 untuk Brasil itu, Neymar hanya mampu menyentuh bola 24 kali sebelum laga usai, namun setiap sentuhannya membawa arti lebih dari sekadar statistik. Ia mencoba satu tembakan dari sudut kotak penalti, yang berhasil diamankan kiper lawan, dan kerap menjadi titik fokus serangan tim Samba. Tapi bukan performa teknisnya yang menjadi pusat perhatian—melainkan emosi yang meledak saat peluit panjang berbunyi. Ia jatuh berlutut di tengah lapangan, menutup wajah dengan tangan, air mata mengalir deras di bawah sorot lampu stadion.
Kemenangan ini bukan hanya soal tiga poin yang mengokohkan Brasil di puncak Grup C, atau brace Vinicius Jr yang memperkuat statusnya sebagai bintang masa depan. Ini adalah kemenangan pribadi bagi Neymar—pemain yang pernah dianggap terlalu rapuh, terlalu sering cedera, dan mungkin terlambat untuk tampil di turnamen besar. Tapi di usia 34 tahun, ia membuktikan bahwa semangatnya tak pernah pudar.
Sebelumnya, banyak yang meragukan keikutsertaannya. Cedera otot yang diderita saat latihan menjelang turnamen sempat membuatnya absen dalam dua laga awal. Bahkan, sejumlah analis memprediksi ia akan duduk di bangku cadangan sepanjang turnamen. Tapi pelatih Dorival Júnior tetap percaya. Dan ketika Neymar masuk, seluruh stadion di Florida berdiri, menyanyikan namanya—sebuah penghormatan yang tak hanya untuk pemain, tapi untuk legenda yang tak pernah menyerah.
Vinicius Jr, yang mencetak dua gol dan menjadi pahlawan kemenangan, langsung berlari mendekati Neymar usai laga. Keduanya berpelukan erat, seolah mengatakan tanpa kata: “Kita berhasil.”
Brasil kini memimpin Grup C dengan tujuh poin, unggul selisih gol atas Maroko. Sementara Neymar, yang sebelumnya hanya pernah tampil di Piala Dunia 2014, 2018, dan 2022, akhirnya menyelesaikan misi pribadinya: bermain di setiap edisi Piala Dunia sejak debutnya di level tim nasional.
Di balik layar, ia sempat berkata kepada staf medis: “Saya tidak ingin pensiun tanpa merasakan lagi rasanya bermain di Piala Dunia. Sekarang, saya sudah merasakannya.”
Dan di tengah hiruk-pikuk kemenangan, ia menangis—bukan karena kekalahan, bukan karena luka, tapi karena kebahagiaan yang terlalu lama ia tunggu.















