Sumbawanews.com,- Di tengah sorak-sorai 70.000 penonton di Stadion Miami, Neymar kembali mengenakan seragam biru kehijauan Timnas Brasil—setelah 981 hari terpisah dari panggung terbesar sepak bola dunia. Pada menit ke-76 laga Grup C Piala Dunia 2026 melawan Skotlandia, pemain berusia 34 tahun itu turun menggantikan Matheus Cunha, yang telah membantu Brasil unggul 3-0. Kehadirannya bukan sekadar substitusi teknis, tapi sebuah momen emosional yang menggetarkan hati para penggemar dan rekan-rekannya.
Saat peluit panjang berbunyi, Neymar tak bisa menahan air mata. Ia berjalan perlahan menuju tribun, menundukkan kepala, lalu mengangkat tangan ke udara—sebuah hormat tulus kepada para suporter yang telah menunggunya selama hampir tiga tahun. Dengan 79 gol dalam 129 penampilan, ia bukan hanya pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Selecao, tapi simbol ketahanan, kerinduan, dan kebangkitan.
Absennya dimulai setelah cedera serius pada ligamen anterior dan meniskus lutut kiri saat menghadapi Uruguay dalam kualifikasi Piala Dunia, 17 Oktober 2023. Cedera itu menghentikan lajunya di level internasional, lalu berlanjut dengan masa sulit di Al-Hilal, di mana ia hanya tampil tujuh kali dalam 18 bulan. Kontraknya berakhir pada Januari 2025, dan ia memilih kembali ke akar-akarnya: Santos. Di sana, ia bangkit—mencetak 17 gol dan delapan assist dalam 43 laga, membuktikan bahwa keajaiban tak pernah benar-benar mati.
Keputusan pelatih Carlo Ancelotti memanggilnya ke skuad Piala Dunia 2026 sempat menuai kontroversi. Joao Pedro, penyerang Chelsea yang tampil konsisten di kualifikasi, harus rela duduk di bangku cadangan. Tapi Ancelotti bersikeras: “Kami memantau Neymar sepanjang tahun. Ia menunjukkan kontinuitas, ketahanan fisik, dan kualitas yang tak bisa diukur hanya dari statistik.”
Di lapangan, Neymar tak mencetak gol atau memberi assist—tapi kehadirannya mengubah dinamika permainan. Ia mengambil ruang, menarik perhatian lawan, dan memberi ruang bagi Vinicius Jr. dan Rodrygo untuk berkembang. Ia bukan lagi pemain yang menguasai bola dengan kecepatan liar, tapi seorang veteran yang bermain dengan kebijaksanaan, dengan setiap langkahnya mengingatkan: ini mungkin pertandingan terakhirnya di pentas dunia.
Di ruang ganti, ia memeluk rekan-rekannya, lalu mengangkat tangan ke langit—mungkin mengingat pesan sang ayah, yang pernah berkata: “Berlarilah seolah ini pertandingan terakhirmu.”
Kini, setelah 981 hari, ia kembali. Bukan sebagai pemain yang sempurna, tapi sebagai legenda yang tak pernah menyerah. Dan di mata para penggemar, itu jauh lebih berharga daripada sekadar gol.















