Sumbawanews.com,- Di balik narasi besar tentang privasi sebagai hak asasi manusia, Apple kini diduga memantau setiap gerakan jari pengguna di App Store—mulai dari kecepatan ketukan, titik sentuh di layar, hingga pola pencarian—tanpa memberi opsi untuk menonaktifkannya. Temuan ini diungkap oleh peneliti keamanan Mysk, yang menemukan sistem pelacakan tersembunyi yang berjalan secara otomatis saat pengguna menjelajahi aplikasi.
Sejak peluncuran fitur rekomendasi personal di WWDC 2026, Apple menyatakan tujuannya adalah membantu pengembang menjangkau audiens yang lebih tepat. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: data perilaku pengguna dikumpulkan secara mendalam, termasuk versi sistem operasi, kata kunci pencarian, dan bahkan durasi sentuhan pada setiap ikon aplikasi. Semua informasi ini kemudian dipakai untuk menyajikan iklan yang lebih presisi di tab Aplikasi, Game, dan Pencarian.
Yang memperdalam kekhawatiran adalah tidak adanya tombol opt-out. Pengguna iPhone tidak punya pilihan selain menerima pelacakan ini—karena App Store adalah satu-satunya gerbang resmi untuk mengunduh aplikasi di perangkat Apple. Berbeda dengan layanan lain seperti Spotify atau YouTube, di mana pengguna bisa beralih bebas, App Store adalah monopoli yang tak tergantikan. Hanya di Uni Eropa, di bawah regulasi Digital Markets Act, pengguna mulai mendapat sedikit ruang bernapas.
Ironisnya, Apple yang selama ini membangun citra sebagai pelindung privasi—sambil menyalahkan Meta dan Google sebagai eksploitator data—kini terlihat berperilaku seperti perusahaan yang sama. Dengan ambisi memperluas pendapatan dari iklan digital, perusahaan yang bernilai triliunan rupiah ini tampak memilih keuntungan jangka pendek di atas kepercayaan yang selama ini dibangun.
Kritik pun mengalir: apakah Apple benar-benar melindungi pengguna, atau justru menjebaknya dalam ekosistem tertutup yang tak bisa dilewati? Dengan menghapus pilihan, perusahaan ini bukan lagi sekadar penyedia perangkat—tapi pengawas perilaku yang menguasai setiap gerak jari penggunanya. Dan di balik setiap sentuhan yang tercatat, ada pertanyaan yang semakin sulit dihindari: siapa yang sebenarnya mengendalikan siapa?















