Sumbawanews.com,- AS Roma dikabarkan serius mempertimbangkan perekrutan penyerang Mason Greenwood dari Olympique Marseille sebagai solusi untuk memperkuat lini depan menjelang musim panas ini. Namun rencana tersebut langsung mendapat gelombang penolakan tegas dari sebagian besar suporter klub, yang menilai riwayat kontroversial sang pemain tak sejalan dengan citra dan nilai-nilai yang ingin dijunjung tinggi oleh klub berjuluk Giallorossi.
Diperkirakan transfer Greenwood bakal memakan biaya sekitar 50 juta euro, sebuah angka yang dianggap wajar mengingat potensi teknisnya yang masih tinggi. Namun, di balik angka itu, tersembunyi beban moral yang jauh lebih berat. Greenwood menjadi pusat skandal serius pada 2022, ketika ia ditangkap atas dugaan pemerkosaan, kekerasan seksual, dan kekerasan domestik terhadap beberapa perempuan. Meskipun dakwaan resmi dicabut kejaksaan pada 2023 akibat mundurnya saksi kunci dan munculnya bukti baru, kepercayaan publik terhadapnya tak pernah pulih.
Sejak kejadian itu, Greenwood tidak pernah lagi tampil untuk Manchester United maupun tim nasional Inggris. Setelah dipinjamkan ke Getafe pada musim 2023/2024, ia akhirnya dijual permanen ke Marseille pada musim panas 2024—tapi bahkan di Prancis, ia kerap menjadi sasaran kecaman, termasuk saat mengalami cedera akibat tindakan keras pemain lawan yang justru dipuji publik.
Di Roma, ketidaksetujuan terhadap rencana ini tak hanya bersifat emosional. Sebuah petisi online yang diluncurkan oleh sekelompok suporter telah mengumpulkan hampir 500 tanda tangan dalam waktu kurang dari 24 jam. Dalam petisi tersebut, para pendukung menegaskan: “Ini bukan soal kebencian pribadi, tapi soal tanggung jawab klub untuk memilih siapa yang mewakili simbol dan identitasnya.”
Mereka menyoroti bahwa Greenwood bukan sekadar pemain yang bermasalah di lapangan, tapi sosok yang terus menjadi simbol kontroversi di luar lapangan—dari konflik disipliner dengan tim nasional hingga tuduhan kekerasan yang mengguncang dunia sepak bola. “Kami menghargai kesempatan kedua, tapi bukan berarti semua kesalahan bisa diabaikan demi kepentingan olahraga,” tulis salah satu penandatangan.
Pernyataan ini menggema di kalangan fans yang sudah lama menganggap klub sebagai lebih dari sekadar tim sepak bola—ia adalah representasi nilai, sejarah, dan kehormatan. Di tengah tekanan untuk membangun tim yang kompetitif, banyak suporter justru meminta manajemen untuk memilih pemain yang tidak hanya berbakat, tapi juga menjadi teladan.
Sementara itu, manajemen Roma belum memberikan komentar resmi. Namun, kegaduhan yang muncul di media sosial dan forum suporter menunjukkan bahwa keputusan ini bukan lagi soal transfer, tapi soal moralitas dalam olahraga modern—di mana bakat tak lagi cukup untuk mengaburkan kegelapan masa lalu.















