Home Berita Internasional Gadis Gaza Tewas Menuju Ujian Akhir, Serangan Israel Hancurkan Harapan

Gadis Gaza Tewas Menuju Ujian Akhir, Serangan Israel Hancurkan Harapan

Sumbawanews.com,- Serangan udara Israel merenggut nyawa seorang remaja putri di Jalur Gaza, hanya beberapa menit sebelum ia hendak mengikuti ujian akhir sekolah. Raghad Ashour, siswa kelas akhir berusia 17 tahun, tewas seketika ketika rudal drone menargetkan mobil yang membawanya melalui jalan Rimal, pusat kota Gaza, pada Senin pagi, 21 Juni 2026.

Ketika kota masih terlelap dalam keheningan pagi, warga sipil berbondong-bondong menuju pusat ujian nasional—sebuah momen langka di tengah kehancuran berkepanjangan. Bagi Raghad, ujian itu bukan sekadar evaluasi akademik, tapi pintu menuju masa depan yang selama ini diimpikan: menjadi guru di tanah kelahirannya yang porak-poranda. Namun, mimpi itu diputus oleh dentuman mesin pembunuh yang datang dari langit.

Menurut sumber medis di Rumah Sakit Shifa, tiga kendaraan sipil menjadi sasaran dalam serangan beruntun yang berlangsung dalam waktu 15 detik. Dua di antaranya terkena dampak langsung. Raghad tewas di tempat, sementara lima orang lainnya terluka parah, sebagian besar akibat pecahan peluru dan puing bangunan yang runtuh. Saksi mata menggambarkan suasana mencekam: asap tebal mengepul, jeritan ibu-ibu memanggil anak-anak, dan suara mesin drone yang terus berdengung seperti hantu yang tak kunjung pergi.

Korban lainnya adalah Ahmad Washah, jurnalis kamera Palestina yang gugur dalam serangan serupa di kamp pengungsi Al-Bureij pada Sabtu lalu. Ia menjadi jurnalis ke-12 yang tewas sejak Oktober 2023, menurut laporan Al Jazeera. Saudaranya, Mohammed Washah, juga tewas dalam serangan serupa empat bulan lalu—sebuah kebetulan yang menyayat hati, sekaligus menunjukkan pola sistematis yang tak kunjung berhenti.

Di Khan Yunis, jenazah Julie Al-Balawi, seorang bocah perempuan berusia delapan tahun, ditemukan di samping mainan plastik yang masih tergenggam erat di tangannya. Ia tewas saat bermain di pantai, sasaran serangan udara yang menurut otoritas Israel bertujuan “menghancurkan terowongan militer.” Tidak ada bukti, tidak ada peringatan, hanya kehancuran yang memakan anak-anak.

Korban sipil terus bertambah, meski dunia terkesan bisu. Puluhan ribu warga Gaza masih menjalani ujian nasional di bawah bayang-bayang bom, dengan kelas-kelas darurat di ruang bawah tanah, cahaya lampu senter, dan buku-buku yang basah oleh keringat dan air mata. Guru-guru mengajarkan sejarah dengan suara gemetar, sementara murid-murid menulis jawaban dengan tangan yang masih bergetar.

PBB dan Komite Internasional Palang Merah telah mendesak gencatan senjata segera, tetapi serangan terus berlanjut. Di tengah keheningan internasional, satu pertanyaan menggema: sampai kapan dunia akan membiarkan anak-anak membayar harga perang dengan nyawa mereka?

Di sebuah rumah sakit yang kekurangan obat-obatan, seorang ibu memeluk jenazah Raghad sambil berbisik: “Kamu tidak akan lulus ujian, sayang. Tapi kamu sudah lulus dalam ujian hidup—karena kamu tetap bersekolah, tetap berharap, meski dunia tak peduli.”

Previous articleRoy Suryo Bebas, Sebut Kemenangan Hukum Rakyat
Next articlePersija Jakarta Resmi Dukung Adidas di Super League 2026
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik