Sumbawanews.com,- Berlin — Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, secara tegas menyalahkan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas keputusan Iran menutup kembali Selat Hormuz. Langkah Teheran itu, menurut Pistorius, merupakan respons langsung terhadap kegagalan Washington dalam menegakkan gencatan senjata yang telah disepakati—khususnya ketika Israel terus melancarkan serangan di Lebanon, meski kesepakatan dengan AS sudah tercapai.
“Kemacetan di Selat Hormuz bukanlah hasil kebijakan Eropa, tapi dorongan dari keputusan-keputusan Trump yang memperdalam krisis,” ujar Pistorius dalam wawancara eksklusif dengan stasiun televisi ARD di Berlin, Ahad (21/6/2026). “Kita tidak menyebabkannya, tapi kita harus menyelesaikannya—karena kelancaran lalu lintas maritim di sini adalah urusan hidup mati bagi ekonomi Eropa.”
Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, menjadi arteri utama perdagangan energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia dan sebagian besar gas alam cair melewati selat sempit ini. Penutupan kembali oleh Iran—yang dikonfirmasi oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)—telah memicu kekhawatiran global terhadap kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok.
Kantor berita Iran, Tasnim, mengutip sumber dekat tim negosiasi yang menyatakan, penutupan akan bertahan hingga gencatan senjata di Lebanon benar-benar dihormati dan izin ekspor minyak Iran dicabut dari pembatasan AS. Sementara itu, Fars News melaporkan bahwa IRGC belum memberikan izin navigasi kepada kapal apa pun, dan larangan tetap berlaku hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan dalam unggahan di platform X bahwa Teheran tidak akan masuk ke dalam pembicaraan lebih lanjut tentang kesepakatan jangka panjang dengan Amerika Serikat, selama paragraf pertama dari kesepakatan gencatan senjata—yakni penghentian total semua operasi militer di semua front, termasuk Lebanon—belum diimplementasikan.
Pistorius menekankan bahwa Jerman dan mitra Eropa lainnya telah berulang kali menolak pendekatan agresif Trump terhadap Iran, termasuk kebijakan “tekanan maksimal” yang memicu eskalasi. Namun, ia menambahkan, kepentingan strategis Eropa tidak bisa menunggu—karena krisis energi yang berkepanjangan akan menghantam industri, transportasi, dan daya beli masyarakat.
“Kita tidak bisa membiarkan kebijakan luar negeri seorang presiden AS yang sudah tidak lagi menjabat mengendalikan akses energi kita,” tegasnya. “Kita harus mencari solusi pragmatis—dengan Iran, dengan Oman, dan dengan semua pihak yang memiliki kepentingan dalam stabilitas maritim.”
Sementara itu, negara-negara Eropa mulai memperkuat koordinasi diplomatik dengan Oman, yang memiliki posisi geografis krusial di pintu masuk Selat Hormuz, sebagai kemungkinan saluran netral untuk memulihkan arus perdagangan. Di sisi lain, Iran menolak segala bentuk negosiasi yang tidak mencakup pencabutan sanksi ekonomi dan pengakuan atas haknya atas ekspor minyak.
Dengan ketegangan yang belum menunjukkan tanda mereda, dunia kini menanti apakah diplomasi akan mengalahkan konfrontasi—atau apakah Selat Hormuz akan tetap menjadi simbol ketidakpastian global di tengah kekuasaan yang berubah, tetapi konflik yang tak kunjung usai.















