Sumbawanews.com,- Di tengah tekanan media dan sorotan global, Timnas Portugal telah mempersiapkan diri menghadapi serangan kritik yang menyasar Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026. Setelah ditahan imbang 1-1 oleh Kongo dalam laga pembuka grup K, skuad asuhan Roberto Martinez menjadi sasaran kritik tajam, terutama terhadap sang kapten yang dinilai tak memberi dampak signifikan di lapangan.
Diogo Dalot, bek Manchester United sekaligus salah satu pemain kunci Portugal, mengakui bahwa pihaknya telah memprediksi skenario ini jauh-jauh hari sebelum turnamen berlangsung. “Kami sudah berdiskusi panjang di ruang ganti sebelum berangkat ke AS. Kami tahu bahwa kehadiran Cristiano akan membawa beban ekstra—baik dalam hal ekspektasi maupun kritik,” ujar Dalot dalam wawancara eksklusif dengan ESPN.
Kritik terhadap Ronaldo mencakup tuduhan bahwa ia “telah habis masa jayanya”, “bermain demi rekor pribadi”, hingga “menghambat regenerasi tim”. Namun, Dalot menegaskan bahwa tim tidak tergoyahkan. “Kami tahu kritik ini akan datang—kadang tidak adil, sering dibesar-besarkan, dan terkadang jauh dari kebenaran. Tapi kami sudah siap. Tim ini lebih besar dari satu nama.”
Pernyataan Dalot sejalan dengan sikap Ruben Dias yang sebelumnya menyebut suara keras di media sosial sebagai “berisik”, dan menekankan bahwa fokus tim tetap pada permainan, bukan pada narasi yang dibangun di luar lapangan.
Portugal kini berada di posisi ketiga grup K setelah satu poin dari dua laga, dengan Uzbekistan menjadi lawan berikutnya pada Rabu (24/6). Kemenangan mutlak diperlukan agar Portugal tetap bertahan di jalur lolos ke babak 32 besar. Tanpa kemenangan, ambisi mempertahankan gelar juara dunia yang pernah diraih pada 2016 akan terancam.
Meski usia Ronaldo kini menginjak 41 tahun, keberadaannya tetap menjadi magnet bagi perhatian dunia—baik sebagai simbol legenda yang tak tergantikan, maupun sebagai titik api kontroversi. Namun, seperti yang diungkap Dalot, Portugal bukan tim yang berdiri di atas satu bintang. “Kami bermain untuk Portugal. Bukan untuk Cristiano. Tapi kami juga tahu: tanpa Cristiano, kami tidak akan sekuat ini.”
Laga melawan Uzbekistan bukan sekadar soal tiga poin. Ini adalah ujian ketahanan mental tim yang telah memilih untuk tidak menjawab kritik dengan kata-kata, tapi dengan bola di kaki dan tekad di hati.















