Home Berita Internasional Dari Sahabat Jadi Musuh, Warga Israel Marah pada Trump

Dari Sahabat Jadi Musuh, Warga Israel Marah pada Trump

Sumbawanews.com,- Sejumlah warga Israel merasa dikhianati oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah kesepakatan damai antara AS dan Iran diumumkan. Di kota Rehovot, sekitar tiga kilometer dari Tel Aviv, Avi Perez mengungkapkan kekecewaannya: “Kami sudah dikhianati oleh Presiden Trump.” Kalimat itu menjadi suara yang kian banyak diulang di berbagai sudut negeri itu—dari rumah-rumah hingga kafe-kafe, di tengah rasa tak percaya bahwa sekutu terdekat justru berpihak pada musuh bebuyutan.

Pada Rabu (17/6), Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara virtual, menutup babak baru dalam hubungan yang selama puluhan tahun dipenuhi permusuhan. MoU berisi 14 poin yang dinilai sebagian besar menguntungkan Teheran. Para analis pun menyebutnya sebagai kemenangan diplomatik Iran, terutama setelah AS secara tiba-tiba menghentikan tekanan militer dan ekonomi yang selama ini menjadi pilar kebijakan Washington terhadap Republik Islam itu.

Di belakang layar, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut telah berupaya keras menggagalkan kesepakatan ini. Menurut sumber pemerintah Israel yang berbicara dengan CNN, Netanyahu berusaha memengaruhi perundingan lanjutan yang dijadwalkan berlangsung di Swiss akhir pekan ini—perundingan yang akan menentukan batas-batas implementasi MoU dalam 60 hari ke depan.

Namun, upaya itu tak cukup menghentikan arus kemarahan publik. Shaham Nowick, warga berusia 35 tahun yang setiap hari mendengar sirene peringatan serangan roket, menggambarkan kebingungan yang mendalam: “Suatu hari kita bersembunyi di bunker karena bom, keesokan harinya kita diminta percaya bahwa semuanya sudah selesai. Tapi tidak ada yang terselesaikan.”

Kemarahan itu memuncak ketika Trump secara terbuka mendesak Israel untuk menghentikan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon—kelompok yang dianggap warga Israel sebagai ekstensi langsung dari Iran. “Semua orang di Israel tahu: Iran dan Hizbullah adalah satu entitas,” ujar Udi Tenne, penasihat strategis politik sekaligus manajer kampanye internasional Israel. “Kita tidak sedang berperang melawan kelompok terpisah. Kita sedang menghadapi ancaman eksistensial.”

Trump, yang mengaku gerah dengan tekanan lobi dari pihak Israel, menanggapi dengan nada tegas. “Terkadang kamu hanya perlu tenang dan menggunakan akal sehatmu,” katanya dalam wawancara dengan NBC. Ia menilai pendekatan militer yang terus-menerus tidak lagi berkelanjutan, terutama dalam konteks kebutuhan energi global.

Dalam penjelasannya, Trump menyebut cadangan minyak AS akan habis dalam waktu empat pekan jika Selat Hormuz—jalur strategis pengiriman minyak yang dikuasai Iran—tetap ditutup. “Kita akan benar-benar kehabisan. Dan suatu hari nanti, kita tidak akan bisa mendapatkannya lagi,” ujarnya, merujuk pada laporan dari The Hill.

Kesepakatan ini bukan sekadar perubahan kebijakan luar negeri. Ia adalah patahnya kepercayaan—dari sekutu yang selama ini dianggap tak tergoyahkan, menjadi aktor yang dianggap mengorbankan keamanan Israel demi kepentingan energi dan politik domestik. Di jalan-jalan Tel Aviv, spanduk bertuliskan “Trump Mengkhianati Kita” mulai bermunculan. Di kantor-kantor pemerintah, para pejabat diam-diam mempertimbangkan ulang seluruh kerja sama keamanan dengan Washington.

Bagi banyak warga Israel, ini bukan lagi soal perang atau damai. Ini soal siapa yang bisa dipercaya. Dan sekarang, satu nama yang selama ini dianggap sebagai pelindung—Donald Trump—tercatat dalam daftar yang sama dengan musuh mereka: Iran.

Previous articleMinyak Dunia Habis dalam 4 Pekan jika Hormuz Tertutup
Next articleRektor UI Bantah Tugaskan Daffa Ikut Kunker Gibran
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.