Home Berita Internasional Gencatan Senjata Retak, Konflik Israel-Hizbullah Masih Berdarah

Gencatan Senjata Retak, Konflik Israel-Hizbullah Masih Berdarah

Sumbawanews.com,- Meski resmi diumumkan, gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah berjalan di atas fondasi yang rapuh. Kesepakatan yang dicapai setelah eskalasi kekerasan menewaskan 47 orang di Lebanon selatan—dikonfirmasi oleh pejabat Amerika Serikat—tidak mampu menghentikan serangan udara yang terus menghantam wilayah perbatasan. Pukul 16.00 waktu setempat, waktu yang ditetapkan sebagai awal gencatan, justru menjadi titik awal baru dari kekerasan: setidaknya 12 serangan udara dilaporkan masih terjadi di Nabatieh dan kota-kota sekitarnya.

Militer Israel menyatakan telah menghentikan operasi ofensif, tetapi tegas menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan ancaman berkembang. “Kami akan terus menghilangkan ancaman langsung, merespons setiap pelanggaran, dan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi warga sipil kami,” ujar juru bicara militer Effie Defrin, menegaskan bahwa gencatan senjata bukanlah kapitulasi, melainkan jeda taktis.

Di sisi lain, Hizbullah belum mengumumkan persetujuan resmi. Namun, Sekretaris Jenderal Sheikh Naim Qassem menyampaikan pesan yang jelas: “Proyek untuk melenyapkan Hizbullah telah gagal, dan Israel akan mundur dari setiap jengkal tanah kami.” Pernyataan itu disertai klaim bahwa kelompok itu berhasil menghancurkan tiga tank Israel dan menewaskan empat tentara, termasuk seorang komandan batalion, dalam serangan balasan yang menggunakan rudal antitank dan artileri.

Kesepakatan ini muncul di tengah tekanan diplomatik global, khususnya dari upaya pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump untuk meredam konflik melalui nota kesepahaman dengan Iran. Namun, Teheran menuding Israel sengaja merusak kesepakatan itu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan: “Setiap pelanggaran terhadap komitmen dalam nota kesepahaman akan dianggap sebagai tanggung jawab Amerika Serikat.” Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir membalas dengan retorika keras: “Lebanon harus terbakar. Untuk setiap air mata ibu di Israel, seribu ibu di Lebanon harus menangis.”

Ketegangan ini memperlihatkan betapa rapuhnya gencatan senjata yang diumumkan. Tidak ada kepercayaan bersama, tidak ada mekanisme verifikasi independen, dan masing-masing pihak masih memandang perang sebagai alat politik yang sah. Ribuan bangunan di Lebanon selatan telah hancur, warga sipil mengungsi, dan korban berjatuhan—semua terjadi sementara dunia menunggu apakah gencatan ini akan bertahan, atau hanya menjadi jeda sebelum badai berikutnya.

Dengan Israel yang tetap siap menyerang, Hizbullah yang tak mau mundur, dan AS yang berusaha menenangkan tapi tak mampu mengendalikan, kawasan itu kini berdiri di tepi jurang—dengan setiap ledakan yang menggema di perbatasan, semakin jelas bahwa perdamaian bukanlah hasil dari pernyataan, melainkan dari keberanian untuk menghentikan kebencian.

Previous article7,7 Juta Ton Beras Pemerintah Disalurkan untuk Rakyat
Next articleCamat Maluk dan Pemdes Maluk Bersama PT Vektor Terus Genjot Persiapan Arena MTQ ke-XXII Tingkat Kecamatan
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.