Home Berita Nasional Potensi Banjir Bandang Mengancam Wilayah Gempa Sigi

Potensi Banjir Bandang Mengancam Wilayah Gempa Sigi

Sumbawanews.com,- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, memperingatkan adanya risiko banjir bandang di sejumlah titik di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pasca-gempa magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah itu pada 16 Juni 2026. Ancaman ini muncul setelah pemantauan drone mengidentifikasi 24 titik longsoran di lereng perbukitan, empat di antaranya telah menimbulkan penyumbatan aliran sungai akibat timbunan material tanah dan batu.

Dalam rapat koordinasi darurat di Posko Lapangan Kecamatan Nokilalaki, Jumat (19/6/2026), Suharyanto menekankan bahwa hujan yang mengguyur wilayah tersebut berpotensi memicu jebolnya bendungan alami yang terbentuk dari longsoran. “Air tertahan di balik timbunan material. Jika curah hujan meningkat, risiko banjir bandang sangat nyata,” ujarnya. Untuk mencegah bencana sekunder itu, pemerintah daerah bersama BNPB sepakat segera membuka jalur aliran air dengan menggunakan pompa alkon—alat pemompa berkapasitas tinggi—untuk mengurai penyumbatan secara terkendali.

Gempa yang berpusat di Sigi tidak hanya meruntuhkan 2.319 rumah dan sejumlah fasilitas umum, tetapi juga mengubah topografi alami lereng-lereng curam. Tiga korban jiwa telah dilaporkan, sementara 703 gempa susulan tercatat hingga Kamis (18/6), dengan 25 di antaranya masih dirasakan masyarakat. Akibatnya, sebagian besar warga memilih bertahan di tenda pengungsian yang dibangun dekat permukiman, sebagai upaya antisipasi terhadap guncangan baru.

BNPB bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menetapkan status tanggap darurat hingga 23 Juni 2026. Bantuan logistik—termasuk tenda keluarga, selimut, matras, kasur lipat, dan tenda ibadah sementara—telah didistribusikan ke lokasi terdampak. Tim BNPB terus berada di lapangan untuk memantau perkembangan risiko lanjutan, termasuk potensi banjir bandang yang bisa menghancurkan upaya pemulihan yang baru saja dimulai.

Suharyanto menilai respons darurat daerah berjalan cepat dan terkoordinasi. “Alhamdulillah, penanganan sudah sangat cepat. Tenda-tenda dibangun dekat rumah warga, bukan di lokasi terpencil. Ini penting untuk menjaga keutuhan sosial dan psikologis korban,” katanya setelah meninjau Desa Sejahtera dan Desa Kamarora.

Di tengah upaya pemulihan, BMKG terus memantau aktivitas seismik, sementara tim geologi dari ITB mengkaji kompleksitas sesar aktif di wilayah itu sebagai bagian dari analisis jangka panjang. Namun, yang paling mendesak kini adalah mencegah bencana berikutnya—yang tak datang dari tanah, tapi dari air yang terperangkap di antara puing-puing gempa.

Previous articleIsrael dan Hizbullah Setujui Perpanjangan Gencatan Senjata
Next articleiPhone 18 Pro Bakal Lebih Mahal, Apple Akui Tekanan Pasokan
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.