Sumbawanews.com,- Proyek revitalisasi Jalan Gadang-Bumiayu resmi dimulai pada 15 Juni 2026, ditandai dengan doa bersama dan syukuran di Pasar Induk Gadang (PIG) yang dihadiri langsung oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat. Pekerjaan ini menjadi langkah strategis untuk memperbaiki akses lalu lintas dari Simpang Empat Gadang hingga Bumiayu, sekaligus menindaklanjuti pemindahan pedagang ke lokasi baru guna menyelesaikan keluhan masyarakat selama bertahun-tahun.
Wahyu menegaskan, Surat Perintah Kerja (SPK) telah ditandatangani dan sesuai kontrak, proyek dijadwalkan selesai dalam 172 hari. Namun, pemerintah kota meminta kontraktor menyelesaikan pekerjaan dalam waktu 150 hari—memberi ruang bagi evaluasi dan perbaikan akhir sebelum serah terima. “Kami tidak ingin hanya selesai, tapi selesai dengan kualitas,” ujarnya.
Pengerjaan dimulai dengan pembenahan sistem drainase berukuran satu meter lebar dan kedalaman, yang dirancang untuk mengatasi genangan sepanjang tahun. Setelah itu, tahap pengaspalan akan dilakukan secara bertahap, mencakup ruas utama, jalan sirip, hingga jembatan penghubung antara Simpang Empat Gadang dan Simpang Bumiayu. Untuk menjamin kelancaran arus lalu lintas selama konstruksi, Dinas Perhubungan telah menyiapkan rekayasa lalu lintas dengan sistem buka-tutup, dan pihaknya meminta pengertian warga atas sementara waktu.
Tak hanya jalan, penataan kawasan pasar menjadi fokus utama. Di tengah jalan akan dibangun median hijau dengan tanaman peneduh dan taman kecil, menciptakan suasana lebih sejuk dan estetis. Pemkot Malang juga akan memasang pagar BRC (British Reinforced Concrete) dengan pondasi precast di sepanjang sisi jalan, guna menghentikan praktik transaksi di pinggir jalan yang selama ini menjadi penyebab kemacetan kronis. “Kami ingin jalan ini berfungsi sebagai jalur lalu lintas, bukan lapak dagang. Berbelanja harus masuk ke dalam pasar, bukan berhenti di jalan,” tegas Wahyu.
Sejalan dengan itu, seluruh pedagang yang masih bertahan di lokasi lama diwajibkan pindah paling lambat 20 Juni 2026. Wahyu memastikan, kendala terakhir—penyelesaian area di sisi selatan pasar—sedang dikebut oleh Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan. “Tidak ada pengecualian. Semua harus pindah agar penataan bisa berjalan utuh,” katanya.
Proyek ini tidak hanya soal aspal dan drainase, tapi transformasi tata ruang yang bertujuan mengembalikan fungsi pasar sebagai pusat ekonomi yang tertib, aman, dan nyaman. Dengan target rampung akhir November 2026, Pemkot Malang berharap masyarakat bisa menikmati jalan yang lancar, udara yang lebih bersih, dan kawasan pasar yang terorganisir—mengakhiri dekade kemacetan dan kekacauan yang mengganggu mobilitas dan ekonomi lokal. “Ini bukan sekadar perbaikan jalan. Ini adalah investasi untuk kenyamanan warga selama puluhan tahun ke depan,” pungkas Wahyu.

















