Sumbawanews.com,- Washington — Pemerintah Amerika Serikat secara tegas menegur Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas pernyataannya yang mempertanyakan komitmen AS sebagai sekutu utama Israel dalam upaya menangkal ancaman nuklir Iran. Dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis oleh Gedung Putih, pejabat tinggi AS menekankan bahwa Amerika Serikat tetap menjadi sekutu paling kuat dan tak tergoyahkan bagi Israel, sekaligus menolak keras klaim Netanyahu bahwa Washington sedang “mengorbankan keamanan Israel” demi kesepakatan nuklir dengan Teheran.
Netanyahu, yang baru saja kembali memimpin pemerintahan Israel setelah pemilu ulang, menyatakan dalam pidato publik bahwa kesepakatan potensial antara AS dan Iran — yang sedang dibahas kembali di Vienna — akan memberi Teheran akses ke senjata nuklir dalam jangka panjang. Ia bahkan menyebut bahwa AS “tidak lagi bisa diandalkan” sebagai mitra strategis, pernyataan yang langsung memicu reaksi keras dari pejabat tinggi di Washington.
“Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, mengorbankan keamanan Israel,” tegas seorang pejabat senior Gedung Putih yang berbicara dengan syarat anonim. “AS adalah satu-satunya sekutu yang secara konsisten mendukung kedaulatan Israel, baik melalui bantuan militer, intelijen, maupun diplomasi di PBB. Klaim bahwa kami meninggalkan Israel adalah salah dan berbahaya.”
Ketegangan ini muncul di tengah upaya intensif pemerintahan Presiden Joe Biden untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA), yang ditarik oleh pemerintahan Donald Trump pada 2018. Meskipun Israel secara terbuka menentang kesepakatan itu, Washington menegaskan bahwa pendekatan diplomatik — meski penuh tantangan — tetap menjadi jalur terbaik untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir, sekaligus menghindari konflik militer yang bisa mengguncang kawasan.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dalam percakapan telepon dengan Netanyahu pekan lalu menegaskan bahwa AS tidak akan pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, dan bahwa semua opsi — termasuk militer — tetap di meja. Namun, ia juga menekankan bahwa kesepakatan diplomatik yang ketat dan terverifikasi adalah prioritas utama.
Di sisi lain, para ahli keamanan di Washington memperingatkan bahwa retorika Netanyahu yang semakin keras bisa merusak upaya diplomasi AS, sekaligus memperkuat narasi di Teheran bahwa Israel adalah penghalang utama bagi perdamaian regional. “Netanyahu bermain api,” ujar seorang analis kebijakan luar negeri di Council on Foreign Relations. “Dia ingin menakut-nakuti rakyatnya dan sekutunya agar tetap menolak negosiasi. Tapi dia juga mengikis kepercayaan yang sudah sulit dibangun di Washington.”
Sementara itu, Israel tetap melanjutkan operasi intelijen dan militer di wilayah-wilayah yang dianggap terkait dengan program nuklir Iran, termasuk serangan terhadap fasilitas di Suriah dan Iran sendiri. Namun, tidak ada bukti bahwa AS terlibat dalam operasi-operasi tersebut, dan pemerintah Biden secara terbuka menolak mengomentari operasi semacam itu.
Dalam konteks ini, hubungan antara dua sekutu strategis itu kini berada di titik terendah dalam lebih dari satu dekade — bukan karena perbedaan tujuan, tapi karena perbedaan cara mencapainya. AS percaya pada diplomasi yang terukur; Israel percaya pada deterensi militer yang tak kompromi. Dan di tengah ketegangan itu, kepercayaan menjadi barang yang paling sulit dipulihkan.

















