Sumbawanews.com,- CEO Apple Tim Cook mengakui bahwa krisis pasokan dan kenaikan harga chip memori dinamis—terutama RAM—telah mendorong perusahaan mempertimbangkan penyesuaian harga pada produk-produk terbarunya, termasuk iPhone 18 yang dijadwalkan rilis akhir tahun ini. Dalam wawancara eksklusif dengan The Wall Street Journal, Cook menggambarkan kondisi pasar komponen elektronik saat ini sebagai yang paling ekstrem dalam lebih dari empat dekade kariernya di industri teknologi.
Selama bertahun-tahun, Apple berupaya menahan beban biaya produksi yang ditransfer oleh pemasok, demi menjaga harga konsumen tetap stabil. Namun, menurut Cook, upaya itu kini tak lagi bisa dipertahankan. “Kami telah berjuang sekuat tenaga untuk menyerap kenaikan harga, tapi situasinya sudah tidak berkelanjutan,” ujarnya, dikutip dari laporan Engadget pada 17 Juni 2026.
Penyebab utamanya adalah lonjakan permintaan global akan memori berkapasitas tinggi, yang dipicu oleh ledakan pengembangan kecerdasan buatan. Chip Dynamic Random Access Memory (DRAM) yang sebelumnya cukup tersedia kini menjadi komoditas langka, dengan harga melonjak hingga dua kali lipat dalam beberapa bulan terakhir. Pemasok membebankan kenaikan ini langsung ke produsen perangkat, termasuk Apple, yang tak bisa lagi menutupinya melalui efisiensi operasional semata.
Cook menekankan bahwa dampaknya tidak terbatas pada iPhone 18. Produk lain seperti MacBook, iPad, dan bahkan perangkat yang sudah beredar di pasaran berpotensi mengalami penyesuaian harga. Meski belum mengumumkan angka atau jadwal pasti, pernyataan itu jelas menjadi sinyal kuat bahwa kenaikan harga akan segera terjadi.
Masalah ini bukanlah milik Apple semata. Samsung, Microsoft, HP, Nintendo, hingga Valve juga telah mengungkapkan kekhawatiran serupa atas keterbatasan pasokan dan biaya komponen memori yang terus melambung. Industri teknologi global kini berada di tengah badai pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya—dan konsumen, tanpa sadar, menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Dengan peluncuran iPhone 18 yang tinggal hitungan bulan lagi, dunia menanti apakah Apple akan mempertahankan filosofi harga premiumnya atau memilih strategi lain untuk tetap kompetitif di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. Untuk sementara, satu hal sudah jelas: harga teknologi canggih tidak lagi bisa dianggap sebagai sesuatu yang tetap.

















