Sumbawanews.com,- Presiden Donald Trump membalas keras kritik terhadap kesepakatan damai AS-Iran dengan menyebut para pengkritiknya sebagai “orang bodoh”. Pernyataan itu dilontarkannya tak lama setelah ia menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Iran, yang dianggap sebagai lompatan besar dalam menyelesaikan konflik bersenjata di Timur Tengah yang memanas sejak Februari 2026.
Dalam unggahan di media sosial, Trump menyerang kritikus yang menganggap kesepakatan itu terlalu menguntungkan Teheran. “Orang-orang bodoh ini, yang mengira saya belum cukup keras terhadap Iran, padahal pasar saham mencatat rekor tertinggi dan harga minyak justru anjlok—mereka cemburu, jahat, atau memang tidak tahu apa-apa,” tulisnya.
MoU yang ditandatangani bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian berisi 14 poin utama. Di dalamnya, AS berkomitmen mencabut sanksi minyak yang selama ini memukul perekonomian Iran. Selain itu, jika perundingan lanjutan soal program nuklir Iran berbuah kesepakatan akhir, Washington akan memfasilitasi dana rekonstruksi senilai US$300 miliar (Rp5.342 triliun), yang didukung oleh negara-negara kawasan.
Sebagai imbalannya, Iran setuju mengurangi cadangan uranium yang diperkaya—kemungkinan melalui proses “down-blending”—di bawah pengawasan ketat PBB. Kedua belah pihak juga diberi waktu 60 hari untuk menyelesaikan perundingan teknis demi menghentikan perang secara resmi.
Namun, respons di dalam AS jauh dari seragam. Media-media utama, termasuk MS NOW dan Wall Street Journal, mempertanyakan kebijakan Trump. “Gedung Putih menyetujui gencatan senjata yang tidak mencapai tujuan awal, tapi memberi konsesi finansial besar kepada Teheran,” tulis MS NOW. Fox News, yang biasanya bersikap ramah terhadap Trump, justru mengutip analis yang menyatakan Iran “mendapat keuntungan tanpa harus menghentikan program nuklirnya secara nyata.”
Wall Street Journal menyebut kesepakatan ini sebagai “pertaruhan kebijakan luar negeri terbesar dalam masa jabatan kedua Trump,” dan memperingatkan bahwa presiden akan menghadapi perlawanan sengit dari kelompok garis keras yang menilai ia “menyerahkan terlalu banyak demi sedikit imbalan.”
Sementara itu, Iran menegaskan bahwa kesepakatan ini tidak mencakup pembatasan terhadap rudal balistik—sebuah poin yang sebelumnya menjadi titik tumpu ketegangan. Presiden Pezeshkian menyebut MoU sebagai “langkah berani menuju stabilitas regional,” sementara China dan Rusia menyambut positif inisiatif diplomatik itu.
Trump, yang sebelumnya dikenal sebagai penentang keras kesepakatan nuklir Iran di era Obama, kini menghadapi tekanan dari dalam partainya sendiri. Ia menolak tegas tuduhan bahwa ia “dipermainkan” oleh Iran. “Mereka yang bilang begitu tidak mengerti politik global,” tegasnya. “Ini bukan kekalahan. Ini adalah kemenangan strategis yang akan menyelamatkan nyawa ribuan orang.”
Dengan MoU ini, dunia menyaksikan perubahan dramatis dalam kebijakan luar negeri AS—dari retorika konfrontatif menuju diplomasi yang penuh risiko, dan Trump memilih untuk tidak mundur dari kritik, melainkan menyerangnya langsung.
















