Sumbawanews.com,- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Amerika Serikat sebagai momen bersejarah yang membuka jalan menuju perdamaian abadi. Dalam unggahan resmi di platform X, Pezeshkian menegaskan bahwa kesepakatan ini lahir dari prinsip saling menghormati, bukan tekanan atau kekalahan.
MoU yang ditandatangani secara digital oleh Presiden AS Donald Trump dan Pezeshkian berisi 14 poin krusial. Di antaranya, komitmen untuk menghentikan semua bentuk konflik bersenjata di kawasan—termasuk di Lebanon—penghapusan total sanksi ekonomi terhadap Iran, serta janji kompensasi atas kerusakan akibat perang yang dimulai Februari 2026. Selain itu, Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya tanpa pembatasan, dan pasukan AS akan segera ditarik dari wilayah sekitar Iran.
Kedua negara sepakat merumuskan perjanjian damai permanen dalam waktu 60 hari ke depan. Proses ini diawasi secara ketat oleh pihak ketiga, termasuk Swiss, yang tetap menjadi lokasi pertemuan teknis meski MoU telah ditandatangani.
Respons internasional pun mengalir deras. China dan Rusia menyambut positif langkah ini sebagai titik balik geopolitik di Timur Tengah. Sementara di Washington, sebagian media AS mempertanyakan niat Iran, menyebut Trump “dipermainkan.” Namun, Pezeshkian menegaskan: “Kami tidak menawarkan janji kosong. Ini adalah komitmen nyata yang dibuktikan dengan tindakan, bukan retorika.”
Dalam pernyataannya, Pezeshkian juga menegaskan bahwa kesepakatan ini tidak mengandung klausul terkait rudal balistik Iran—sebuah poin yang sebelumnya menjadi sengketa utama. Trump, dalam responsnya, menyatakan bahwa Iran berhak memiliki senjata pertahanan, sebagaimana negara-negara tetangganya.
Dengan ditandatanganinya MoU ini, dua negara yang selama puluhan tahun saling memusuhi kini berada di ambang perubahan mendasar—menggantikan kecurigaan dengan diplomasi, dan kekerasan dengan dialog. Dunia menanti, apakah kata-kata di atas kertas akan berubah menjadi perdamaian yang bertahan.
















