Sumbawanews.com,- Proses eksekusi aset Hotel Sultan di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, berlangsung hingga siang hari, sementara sarapan di restoran hotel tetap disajikan seperti biasa. Meski petugas dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Sekretariat Negara telah masuk untuk mengambil alih aset, suasana di dalam gedung tak berubah drastis—hingga jam 12.00 WIB, meja makan masih penuh dengan hidangan tradisional dan Barat yang belum tersentuh.
Pantauan di lokasi, Kamis (18/6/2026), hidangan seperti soto, kue jajanan pasar, salad, sosis, roti, sereal, hingga jus jeruk dan semangka masih tersusun rapi di meja. Sebagian besar belum disentuh, seolah waktu berhenti di tengah gejolak hukum yang sedang berlangsung di luar ruangan. Dispenser jus setengah kosong, piring-piring masih berisi sisa makanan, dan kopi hangat menguap di sudut meja—detail kecil yang kontras dengan ketegangan di koridor hotel.
Petugas dari Gelora Bung Karno (GBK) dan kepolisian bergerak sistematis. Di lobi, polisi bersenjata lengkap menjaga ketat akses, sementara sejumlah polwan membantu tamu yang masih berada di dalam gedung untuk keluar perlahan, membawa koper dan barang pribadi. Resepsionis kosong, pintu-pintu kaca mulai dikunci, dan ruang-ruang publik mulai diinventarisasi. Tak ada keributan, hanya ketenangan yang tegang.
Eksekusi ini merupakan tindak lanjut putusan pengadilan dalam sengketa kepemilikan lahan. Hotel Sultan, yang selama bertahun-tahun menjadi ikon staycation di jantung GBK, kini resmi menjadi aset negara. Sebelumnya, 69 orang yang berada di lokasi saat eksekusi—bukan karyawan hotel—telah diamankan oleh Polda Metro Jaya, yang menegaskan pendekatan berbasis dialog dan kemanusiaan.
Di ruang makan, seorang petugas GBK mencatat jumlah piring dan botol yang tersisa. Di luar, mobil-mobil petugas berjejer di depan pintu utama. Di dalam, seorang anak kecil berjalan pelan melewati meja sarapan, memandangi kue-kue yang belum dimakan, sebelum ditarik tangan ibunya. Ada keheningan yang menyayat: sebuah simbol bahwa di tengah proses hukum yang keras, kehidupan sehari-hari tetap berjalan—sampai detik terakhir.
Dengan eksekusi ini, pemerintah melanjutkan upaya penertiban aset negara yang telah lama menjadi sengketa. Presiden Prabowo Subianto, melalui Wakil Menteri Sekretariat Negara, sebelumnya telah menegaskan arahan agar penarikan aset dilakukan secara tertib, transparan, dan menghormati hak-hak warga negara—prinsip yang tampaknya dijalankan dalam aksi hari ini.
Sarapan yang tak selesai itu, mungkin, adalah sisa terakhir dari masa lalu. Yang tersisa kini adalah daftar inventaris, tanda tangan petugas, dan sebuah bangunan yang akan berubah wajah—tapi tidak segera menghilangkan kenangan.















