Sumbawanews.com,- Samsung tengah menyiapkan strategi berbeda untuk dua varian terbaru jajaran ponsel lipatnya, Galaxy Z Fold8 Wide dan Galaxy Z Fold8 Ultra, dengan perbedaan mendasar pada ketebalan lapisan kaca ultra-thin glass (UTG) yang melindungi layar utama.
Menurut informasi yang dihimpun dari sumber industri, Fold8 Wide akan mengusung UTG berketebalan 60 mikrometer, sementara Fold8 Ultra justru memilih versi lebih tipis, yakni 45 mikrometer. Perbedaan ini bukan sekadar detail teknis, melainkan bagian dari pendekatan desain yang sengaja dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengguna berbeda: satu untuk stabilitas dan ketahanan, yang lain untuk kepadatan dan kenyamanan genggaman.
Kaca tipis ini berperan krusial dalam menekan jejak lipatan (crease) yang selama ini menjadi tantangan utama pada perangkat lipat. Namun, ketebalan yang lebih besar pada Fold8 Wide diyakini memberi keunggulan dalam ketahanan terhadap tekanan dan benturan, cocok untuk pengguna yang sering membuka-menutup layar dalam berbagai kondisi. Sementara itu, UTG 45μm pada Ultra menjadi bagian dari upaya Samsung untuk memangkas bobot dan ketebalan total perangkat, menjadikannya lebih ramping dan premium secara visual.
Kedua model ini direncanakan debut bersama Galaxy Z Flip8 pada acara Galaxy Unpacked Juli 2026 di London. Di Indonesia, tanda kehadiran ketiganya semakin jelas setelah tiga nomor model—SM-F976B (Fold8), SM-F971B (Fold8 Wide), dan SM-F776B (Flip8)—tercatat di database TKDN Kemenperin, dengan nilai lokal komponen mencapai 36,10% hingga 39,03%. Meski telah lolos uji TKDN, ketiganya belum mendapat sertifikasi dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), sehingga peluncuran resmi di Tanah Air masih menunggu konfirmasi.
Fold8 Wide sendiri diduga mengusung layar dalam berukuran 7,6 inci dengan rasio 4:3, dirancang khusus untuk multitasking dan pengalaman menonton yang lebih luas. Dengan kamera belakang dual 50MP (utama dan ultrawide), baterai 4.800 mAh, dan bobot sekitar 200 gram, perangkat ini menawarkan keseimbangan antara performa dan kenyamanan. Bandingkan dengan Fold8 reguler yang diperkirakan memiliki layar lebih besar, baterai 5.000 mAh, dan kamera utama 200MP, serta ketebalan hanya 4,1 mm saat terbuka.
Sementara itu, Fold8 Ultra—meski belum banyak rincian teknisnya—diprediksi menjadi puncak dari inovasi Samsung, dengan fokus pada desain ultra-tipis, material premium, dan kemungkinan peningkatan pada sistem engsel dan ketahanan layar. Kombinasi UTG 45μm dengan bodi yang lebih ringan dan ramping menunjukkan bahwa Samsung tidak hanya berlomba dalam spesifikasi, tapi juga dalam filosofi penggunaan: apakah pengguna mengutamakan ketahanan, atau keanggunan yang tak terlihat?
Perbedaan ini mencerminkan strategi Samsung yang semakin matang: tidak lagi menawarkan satu solusi untuk semua, tapi memecah pasar dengan produk yang secara sengaja dirancang untuk kebutuhan spesifik. Dengan persaingan yang kian sengit dari Apple, Huawei, dan Xiaomi yang juga mengembangkan teknologi lipat, langkah ini bisa jadi penentu apakah Samsung tetap menjadi raja di pasar ponsel lipat—atau sekadar mempertahankan dominasinya dengan cara yang lebih cerdas.















