Sumbawanews.com,- Gempa berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa, 16 Juni 2026, menewaskan satu warga dan melukai 35 orang. Pusat gempa berada di darat, 42 kilometer tenggara Kota Palu, dengan kedalaman 10 kilometer, menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Getaran kuat yang dirasakan hingga wilayah Donggala, Poso, dan Parigi Moutong memicu kerusakan infrastruktur dan kepanikan di sejumlah desa.
Korban jiwa dilaporkan meninggal di Kabupaten Sigi, wilayah paling parah terdampak. Data terakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut 312 jiwa atau 110 kepala keluarga terdampak, dengan 272 orang—atau 89 KK—berada di Sigi. Di sana, 47 rumah rusak, terdiri dari 23 rusak ringan, enam rusak sedang, dan 12 rusak berat. Selain rumah, enam fasilitas ibadah, dua gedung perkantoran, satu jembatan, dan satu usaha mikro juga mengalami kerusakan. Sebanyak 22 warga mengalami luka ringan dan 13 lainnya luka berat di wilayah ini.
Kabupaten Parigi Moutong menjadi daerah kedua paling terdampak dengan 40 jiwa terdampak dan 15 rumah rusak. Di Kota Palu, dua warga mengalami luka ringan, sementara Jembatan III mengalami keretakan. Di Kabupaten Poso, satu warga luka dan lima rumah rusak, tiga di antaranya rusak ringan. Fasilitas umum, satu hotel, dan satu tempat usaha di Palu juga terdampak.
Aktivitas gempa susulan masih tercatat hingga sore hari, membuat warga enggan kembali ke rumah. Tim BNPB dan pemerintah daerah terus melakukan pendataan darurat, sementara bantuan logistik mulai mengalir ke titik-titik terdampak. Polisi pun memberlakukan pembatasan pembelian bahan bakar di sejumlah SPBU untuk mencegah penimbunan.
Episenter gempa berada di koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur, tepat di jalur sesar aktif yang pernah menjadi sumber gempa dahsyat 2018 lalu. BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap gempa susulan dan potensi tanah longsor di daerah berlereng. Pemerintah daerah diminta segera memetakan kerusakan infrastruktur vital, termasuk jalan akses dan jembatan, agar bantuan bisa sampai tepat waktu.
Hingga kini, belum ada laporan tsunami, namun kewaspadaan tetap dijaga. Pemulihan dimulai dari pendataan akurat—karena di Sigi, Bupati setempat menargetkan seluruh data kerusakan rampung dalam 24 jam.















