Sumbawanews.com,- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa, 16 Juni 2026, telah merenggut dampak pada 109 jiwa dan melukai 32 orang. Sebanyak 24 korban mengalami luka ringan, sementara delapan lainnya mengalami luka berat—semua data masih dalam proses verifikasi oleh tim lapangan.
Episenter gempa berada di darat pada koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur, dengan kedalaman 10 kilometer. Pusat gempa berjarak 42 kilometer tenggara Kota Palu, 54 kilometer timur laut Kabupaten Sigi, 70 kilometer barat laut Kabupaten Poso, dan 81 kilometer tenggara Kabupaten Donggala. Wilayah yang paling terdampak adalah Kabupaten Sigi, di mana 69 warga dari 24 kepala keluarga tercatat terkena imbasnya—termasuk 21 luka ringan dan delapan luka berat.
Kota Palu mencatat dua orang terluka ringan, sementara Kabupaten Poso melaporkan satu korban luka yang masih dalam pendataan lanjutan. Secara keseluruhan, lima kabupaten terdampak: Palu, Donggala, Sigi, Parigi Moutong, dan Poso.
Di sektor infrastruktur, setidaknya 64 rumah mengalami kerusakan, dengan empat di antaranya rusak ringan di Kabupaten Poso. Di Kabupaten Sigi, lima rumah terdampak, tiga di antaranya rusak ringan, dan satu ruas jalan provinsi mengalami kerusakan. Di Parigi Moutong, 15 rumah terdampak. Di Palu, Jembatan III mengalami keretakan, satu tempat usaha dan satu gedung hotel ikut terdampak.
Kerusakan juga melanda fasilitas publik: empat tempat ibadah, empat fasilitas umum, dua jembatan, dua gedung perkantoran, satu tempat usaha, serta satu ruas jalan provinsi yang menghubungkan Palu-Sigi-Poso mengalami amblas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga pukul 14.00 WIB, terjadi 55 kali gempa susulan di sekitar wilayah pusat gempa. BMKG menegaskan tidak ada potensi tsunami pasca-gempa, namun masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan longsor dan kerusakan struktural pada bangunan.
Tim SAR, BPBD, dan Basarnas telah dikerahkan untuk evakuasi dan pendataan darurat. Tenda darurat telah didirikan di RS Undata Palu, sementara distribusi BBM di wilayah terdampak masih berjalan lancar berkat koordinasi Pertamina. Pemkot Palu pun telah menutup sementara Jembatan III sebagai langkah pencegahan.
Pemerintah daerah dan nasional terus memantau situasi, dengan fokus utama pada penanganan medis, kebutuhan dasar warga, dan pemulihan infrastruktur kritis.















