Sumbawanews.com,- Penelitian terbesar sepanjang sejarah terhadap musang luak Borneo (_Melogale everetti_) mengungkap satwa endemik Kalimantan ini terperangkap dalam jebakan kehidupan yang semakin sempit. Dengan populasi yang hanya ditemukan di kawasan pegunungan Sabah, Malaysia, dan sebagian Kalimantan Utara, mamalia nokturnal berukuran kecil ini kini dianggap sebagai salah satu karnivora paling rentan di pulau itu—bukan karena buruknya perilaku, tapi karena habitatnya yang terus menyusut.
Studi yang diterbitkan di jurnal _Ecology and Evolution_ pada 3 Juni 2026, berdasarkan data dari 188 kamera jebak yang ditempatkan sejak 2021 hingga 2024, berhasil mengungkap perilaku tersembunyi spesies yang selama ini nyaris tak teramati. Gambar-gambar langka menunjukkan musang luak Borneo bergerak lincah di bawah naungan hutan lebat setelah gelap, bahkan satu rekaman memperlihatkannya membawa ular—bukti pertama bahwa ia bukan sekadar pemakan serangga, tapi juga predator aktif.
Kunci keberlangsungan hidupnya ternyata tergantung pada ekosistem hutan dataran tinggi yang kaya akan karbon organik dan nitrogen. Tanpa hutan primer yang utuh, satwa ini tak bisa bertahan. Ancaman terbesar bukan datang dari perburuan langsung—meskipun ia kerap menjadi korban tak sengaja dari jerat yang dipasang untuk mamalia lain—melainkan dari alih fungsi lahan untuk perkebunan skala besar, terutama kelapa sawit dan karet. Hutan yang dulu luas kini terpotong-potong, memaksa musang luak Borneo terjepit di sisa-sisa hutan yang semakin terisolasi.
Lebih mengkhawatirkan lagi, perubahan iklim global berpotensi menggusur batas vegetasi hutan pegunungan. Jika suhu terus naik, satwa ini terpaksa bergerak ke ketinggian yang lebih tinggi—tapi di sana, ruang hidupnya menyempit drastis. Di puncak gunung, tak ada lagi hutan untuk berlindung, hanya batu dan angin. “Ini seperti rumah yang terbakar dari bawah, sementara atapnya runtuh dari atas,” kata Mohammad Aliyuddin, manajer lapangan Bornean Carnivore Programme.
Selain itu, ancaman lokal tak bisa diabaikan: anjing peliharaan warga desa yang berkeliaran bebas, serta jerat yang dipasang tanpa seleksi, turut memangkas populasi yang sudah rapuh. Meski bukan target utama, ukuran tubuhnya yang kecil membuatnya mudah terjebak—dan tak punya peluang melarikan diri.
Temuan ini bukan sekadar catatan ilmiah. Ia adalah lonceng peringatan: musang luak Borneo adalah indikator kesehatan hutan pegunungan Kalimantan. Jika ia punah, maka hutan itu pun sebenarnya sudah mati secara ekologis. Para peneliti mendesak pemerintah Indonesia dan Malaysia untuk segera memperluas kawasan konservasi di zona transboundary, melarang ekspansi perkebunan di kawasan kritis, dan memperkuat pengawasan terhadap perburuan liar. Tanpa tindakan segera, satwa yang baru saja kita kenal—dengan wajah luak dan tubuh musang—akan lenyap sebelum sempat benar-benar dipahami.

















