Home Berita Internasional Iran-AS Damai, Menlu Araghchi Diprotes Massa

Iran-AS Damai, Menlu Araghchi Diprotes Massa

Sumbawanews.com,- Teheran – Aksi protes meletus di sejumlah kota Iran menyusul terungkapnya kesepakatan damai antara Teheran dan Washington, yang membuat Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menjadi sasaran kemarahan kelompok konservatif. Massa di Teheran dan Mashhad berdemonstrasi di alun-alun pusat dan kantor Kementerian Luar Negeri, meneriakkan slogan-slogan mengecam kebijakan diplomatik yang dianggap mengorbankan kepentingan nasional.

Para demonstran menuduh Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf telah melepaskan instrumen tekanan strategis Iran, terutama terkait rencana pembukaan kembali Selat Hormuz—jalan air vital yang selama ini menjadi alat tawar geopolitik Teheran. Slogan-slogan yang menggema menyentuh nostalgia perjuangan revolusioner, dengan pesan bahwa kesepakatan ini mengkhianati pengorbanan para pemimpin dan syahid Iran selama puluhan tahun konflik dengan AS dan sekutunya.

Media konservatif Iran, termasuk surat kabar Kayhan yang dipimpin Hossein Shariatmadari, mempertanyakan logika diplomasi ini. Dalam editorial tajam, Shariatmadari menilai pembukaan Selat Hormuz sebagai kekalahan strategis: “Mengapa kita melepaskan senjata paling ampuh kita, hanya untuk menuntut kompensasi yang belum pasti?” Ia menekankan bahwa kompensasi atas kerugian ekonomi dan militer akibat sanksi selama ini adalah tuntutan utama yang belum terpenuhi.

Protes ini bukan sekadar reaksi spontan, melainkan puncak ketegangan internal yang telah lama menggelegak di kalangan garis keras. Tokoh-tokoh seperti Saeed Jalili, mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, menjadi simbol oposisi terhadap pendekatan pragmatis yang diusung tim negosiasi Iran. Di media sosial, perdebatan sengit pecah antara pendukung perdamaian yang melihatnya sebagai jalan keluar dari isolasi, dan penentang yang memandangnya sebagai kapitulasi diplomatik.

Kesepakatan yang sedang dirumuskan—dilaporkan akan ditandatangani di Swiss—telah memicu reaksi positif di pasar global, termasuk kenaikan harga saham Asia dan lonjakan Bitcoin hingga US$65.500. Namun di dalam Iran, kegembiraan itu tak terasa. Bagi banyak warga yang memandang AS sebagai musuh abadi, damai yang diusung Araghchi bukanlah kemenangan, melainkan kehilangan.

Previous articleSensus Ekonomi 2026 Diluncurkan, Tito Karnavian Ajak Daerah Kolaborasi
Next articlePrabowo Sambut Presiden Jerman dalam Kunjungan Kenegaraan
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.