Home Serba Serbi Tekno X-Men ’97 Sukses, He-Man Gagal: Ini Bedanya

X-Men ’97 Sukses, He-Man Gagal: Ini Bedanya

Sumbawanews.com,- Di tengah gelombang nostalgia yang membanjiri industri hiburan, dua proyek besar—X-Men ’97 musim kedua dan film Masters of the Universe—mencoba menghidupkan kembali ikon animasi masa kecil. Tapi sementara satu berhasil memikat penonton secara luas, yang lain justru tenggelam dalam kegagalan finansial dan apatisme publik. Perbedaannya bukan hanya pada kualitas produksi, tapi pada bagaimana masing-masing fransais memelihara hubungan emosional dengan audiensnya selama bertahun-tahun.

X-Men ’97, yang tayang di Disney+, kembali menghadirkan para mutan ikonik dengan narasi yang tak sekadar mengandalkan kenangan. Musim kedua ini memecah tim X-Men menjadi dua kelompok yang terdampar di dua era berbeda: satu di Mesir kuno, satu lagi di masa depan apokaliptik. Mereka harus berhadapan dengan Apocalypse—villain abadi yang hidup di kedua zaman—dan berusaha mencegah kehancuran dunia. Tapi yang membuat serial ini istimewa bukan hanya petualangan waktu itu, melainkan cara ia menyatu dengan kanon komik Marvel yang lebih baru. Referensi dari seri terbatas seperti The Adventures of Cyclops and Phoenix dan Rise of Apocalypse diolah dengan cerdas, sambil tetap merevisi karakter seperti Morph menjadi non-biner, sebuah perubahan yang justru memperkaya dunia cerita tanpa mengkhianati akar aslinya.

Hasilnya? X-Men ’97 menjadi hit rating sejak debutnya tahun 2024, bukan hanya karena penggemar lama yang bersorak, tapi karena ia berhasil menarik generasi baru yang melihat mutan sebagai simbol perlawanan terhadap diskriminasi—tema yang tetap relevan hingga kini. Marvel tak pernah membiarkan X-Men menghilang dari radar budaya pop: komik terus diterbitkan, serial TV seperti The Gifted dan Legion tetap hadir meski tak selalu sukses, dan setiap proyek baru—termasuk film MCU yang akan datang—dipandang sebagai bagian dari sebuah perjalanan panjang, bukan sekadar peluang bisnis sesaat.

Berbeda dengan itu, Masters of the Universe dari Mattel justru menjadi studi kasus tentang bagaimana tidak memahami esensi nostalgia. Film live-action yang dirilis pekan lalu menghabiskan anggaran $200 juta, tapi hanya menghasilkan $54,4 juta di box office. Meski mencoba menyisipkan kritik terhadap maskulinitas toksik, film ini gagal menciptakan koneksi emosional dengan penonton. He-Man—yang dulu menjadi simbol keberanian dan keadilan bagi anak-anak tahun 80-an—kini terasa seperti boneka yang dipaksakan masuk ke dunia dewasa tanpa alasan yang meyakinkan.

Kesalahan utama Mattel? Mengira bahwa keberhasilan Barbie berarti semua mainan bisa dijadikan film dengan formula yang sama. Barbie sukses bukan karena ia menampilkan mainan, tapi karena ia menggali makna budaya di baliknya—menggugat stereotip, mengeksplorasi identitas, dan menjadikan Barbie sebagai cermin masyarakat. He-Man, di sisi lain, diperlakukan sebagai aset yang perlu diuangkan, bukan sebagai karakter yang perlu dihidupkan kembali.

Sementara Marvel membangun kembali X-Men sebagai warisan budaya yang dinamis, Mattel memperlakukan He-Man sebagai barang antik yang hanya perlu dibersihkan dan dipajang kembali. Hasilnya? Satu proyek menjadi fenomena, yang lain menjadi catatan kaki box office.

X-Men ’97 musim kedua tayang 1 Juli di Disney+, sementara Masters of the Universe kini hanya tersisa sebagai peringatan: nostalgia tanpa pengembangan adalah ilusi.

Previous articlePemakaman Khamenei Digelar 4 Juli 2026
Next articleTiga Pelaku Curanmor Ditemukan Bawa Narkoba di Pancoran
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.