Sumbawanews.com,- Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta menyatakan bahwa Israel kini menghadapi krisis legitimasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dukungan moral yang selama ini menjadi fondasi eksistensinya di kancah internasional, terutama di Barat, mulai runtuh secara sistematis.
Dalam wawancara eksklusif di Jakarta, Anis menjelaskan bahwa perubahan ini bukan sekadar dampak dari konflik militer, melainkan akibat dari terungkapnya pelanggaran hak asasi manusia yang masif di Gaza. “Narasi yang selama puluhan tahun dipakai untuk membenarkan kebijakan Israel—bahwa negara ini adalah benteng demokrasi di Timur Tengah—kini tak lagi dipercaya oleh publik global, bahkan di kalangan komunitas Yahudi sendiri,” ujarnya.
Menurut data yang dikutip Anis, survei terbaru di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan penurunan signifikan tingkat dukungan terhadap Israel, terutama di kalangan generasi muda. Di beberapa kota besar, demonstrasi solidaritas terhadap Palestina justru lebih banyak diikuti oleh warga Yahudi muda daripada kelompok non-Yahudi. Fenomena ini, lanjutnya, merupakan titik balik sejarah yang tak bisa diabaikan.
Anis menekankan bahwa hilangnya legitimasi moral ini bukan sekadar isu politik, melainkan ancaman eksistensial. “Israel tidak bisa bertahan hanya dengan kekuatan militer jika dunia tidak lagi mengakui keabsahan keberadaannya secara etis dan hukum,” katanya.
Dalam menghadapi tekanan ini, Anis mengidentifikasi dua jalur strategis yang mungkin ditempuh Israel. Pertama, memperdalam integrasi ke dalam sistem politik Timur Tengah melalui normalisasi hubungan dengan negara-negara Muslim—sebagaimana yang pernah diupayakan melalui Perjanjian Abraham di masa pemerintahan Donald Trump. Namun, ia menilai upaya ini kini semakin sulit diwujudkan. “Genosida di Gaza dan eskalasi konflik dengan Iran telah menghancurkan kepercayaan yang sudah susah payah dibangun. Negara-negara Arab tidak lagi bisa menutup mata terhadap kenyataan di lapangan.”
Jalur kedua—mengandalkan kekuatan militer dan tekanan geopolitik—justru semakin memperdalam isolasi Israel. Anis mencontohkan respons Iran yang kini secara terbuka menyatakan akan melanjutkan serangan balasan terhadap target Israel, sementara kelompok Houthi di Yaman menutup jalur maritim di Laut Merah, mengganggu rantai pasok strategis Israel.
“Israel sedang berada di persimpangan jalan,” tegas Anis. “Jika ia memilih untuk terus mengandalkan kekerasan, ia akan semakin terisolasi. Jika ia memilih jalan rekonsiliasi, ia harus mengakui kesalahan masa lalu—dan itu adalah langkah yang belum pernah ia ambil.”
Anis menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa kemerdekaan Palestina bukan lagi mimpi, melainkan sebuah proses sejarah yang tak terbendung. “Dunia sedang berubah. Dan dalam perubahan itu, keadilan tidak lagi bisa ditunda.”

















