Sumbawanews.com,- Di tengah kunjungan kerja ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 di Tabanan, Bali, Presiden Prabowo Subianto menyentuh hati ratusan siswa dengan cerita pribadinya tentang perundungan—dan nasihat yang tak terduga. Saat seorang siswa, Gede Bagus Abimanyu, berani berbagi bahwa ia kerap diejek karena sifatnya yang pendiam hingga sempat absen sekolah, Presiden tak sekadar memberi simpati. Ia justru membuka luka lamanya sendiri.
“Terima kasih, Bagus. Kamu dulu diejek? Tidak apa-apa,” ujar Prabowo dengan nada tenang, dihadapan para siswa dan guru. “Jangankan kamu, saya juga sering diejek—sampai sekarang. Presiden pun diejek. Tapi yang penting, hatimu teguh.”
Kisah Bagus, yang kini aktif dalam organisasi anti-bullying di sekolahnya, menjadi titik balik momen itu. Ia bercerita bagaimana dukungan ibunya menyelamatkannya dari keputusasaan, dan bagaimana ia kini berkomitmen mencegah teman-temannya merasakan hal yang sama. “Sehancur-hancurnya seorang anak, jika diberi dukungan dan lingkungan yang tepat, ia bisa dirakit kembali,” ujarnya dengan suara bergetar, disambung tepuk tangan meriah.
Prabowo, yang sebelumnya menekankan pentingnya disiplin belajar, menghormati guru, dan mencintai orang tua, lalu mengalihkan fokus ke kekuatan batin. “Kalau kita diejek, jangan balas dengan marah. Balas dengan sopan santun. Semakin dihina, semakin kau teguh. Semakin berani. Semakin baik,” ujarnya, menekankan setiap kata dengan nada yang tak terburu-buru.
Ia menambahkan, banyak tokoh besar yang lahir dari keluarga miskin, dari lingkungan penuh cemooh. “Mereka tidak menyerah. Mereka tidak putus asa. Mereka tetap gembira, meski dunia memandang rendah. Dan percayalah—kebaikan akan datang, jika kita tak pernah berhenti berjuang.”
Kepada para siswa, Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan bukan soal latar belakang, tapi soal keteguhan hati. Ia menutup sambutannya dengan pesan yang menggema: “Jangan pernah membenci. Jangan pernah menjelekkan. Hidup yang baik adalah hidup yang rukun. Itu kunci sejati.”
Di tengah gemuruh tepuk tangan, Bagus menangis pelan—bukan karena sedih, tapi karena merasa didengar. Dan di kursi kepresidenan, seorang pemimpin yang kerap jadi sasaran kritik justru menjadi teladan: bahwa kekuatan sejati bukan pada jabatan, tapi pada kemampuan untuk bangkit—dan mengajak orang lain bangkit bersama.

















