Sumbawanews.com,- Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim kesepakatan damai dengan Iran hampir terwujud, ketika serangan udara Israel meluluhlantakkan pinggiran selatan Beirut—sebuah aksi yang langsung memicu balasan rudal Iran dan mengancam runtuhnya gencatan senjata yang baru saja digaungkan.
Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News pada Ahad malam, Trump menyatakan bahwa pihaknya “sangat dekat” mencapai kesepakatan permanen untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. “Saya akan memastikannya—melalui negosiasi, atau jika perlu, dengan cara lain,” ujarnya, menekankan bahwa keputusan akhir berada di tangan Washington, bukan Tel Aviv. Ia bahkan menegaskan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu “tidak punya pilihan lain” selain menerima apa pun yang disepakati AS dengan Teheran.
Namun, hanya beberapa jam setelah pernyataan itu dilontarkan, pesawat-pesawat tempur Israel meluncurkan serangan udara ke kawasan pinggiran Beirut, menargetkan lokasi yang selama ini dihindari karena tekanan diplomatik AS. Operasi ini diklaim sebagai upaya “menghancurkan infrastruktur Hizbullah,” tetapi para pengamat menilai langkah itu justru menghancurkan kepercayaan yang baru saja dibangun dalam proses negosiasi.
Tak butuh waktu lama bagi Iran untuk merespons. Pasukan Revolusioner Garda Iran (IRGC) mengumumkan serangan balasan dengan puluhan rudal balistik yang menghantam situs-situs militer Israel—serangan pertama sejak gencatan senjata 8 April lalu. Dalam pernyataan resmi, IRGC menegaskan bahwa kesepakatan damai dengan AS bersyarat: “gencatan senjata di semua lini.” Mereka menuduh Israel dan AS telah secara sistematis melanggar kesepakatan dengan serangan berulang terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz, Laut Oman, hingga blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
“Operasi malam ini adalah peringatan,” tegas IRGC. “Jika agresi berlanjut, respons kami akan jauh lebih luas dan lebih keras.”
Penting dicatat bahwa Iran sejauh ini tidak pernah secara terbuka mengakui program senjata nuklir, dan kebijakan resminya tetap menolak pengembangan senjata nuklir sejak revolusi 1979. Namun, serangan-serangan koordinasi antara AS dan Israel sejak Februari lalu—termasuk serangan terhadap fasilitas nuklir dan infrastruktur strategis—telah memicu perubahan narasi di Teheran, di mana hardliner kini berargumen bahwa diplomasi hanya memperlemah posisi Iran.
Ketegangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik AS yang tengah berada di titik kritis. Trump, yang kembali menjabat sebagai presiden, berupaya membangun warisan kebijakan luar negeri yang menekankan “kesepakatan besar,” sementara Netanyahu menghadapi tekanan internal dari sayap militer dan politik yang menolak apa pun yang dianggap sebagai konsesi terhadap Iran.
Di Beirut, warga sipil menjadi korban pertama dari permainan geopolitik yang semakin berbahaya. Gedung-gedung di pinggiran kota hancur, listrik padam, dan rumah sakit kewalahan menangani korban. Sementara itu, di Washington dan Teheran, para pejabat saling menyalahkan—AS menuduh Israel merusak proses damai, sementara Israel menyalahkan AS karena dianggap terlalu lunak terhadap Iran.
Diplomasi kini berada di ambang kehancuran. Dan di tengah keheningan malam yang dipenuhi asap dan suara sirene, satu pertanyaan menggema: apakah keamanan regional akan dibangun melalui kesepakatan, atau justru dihancurkan oleh serangan yang tak terduga?

















