Sumbawanews.com,- Presiden Prabowo Subianto terharu menyaksikan semangat I Ketut Arlan, siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, yang dengan lantang menyampaikan terima kasih dalam bahasa Inggris atas kehadiran program sekolah, makanan, dan harapan yang diberikan pemerintah. “Terima kasih Presiden Prabowo Subianto, terima kasih telah memberikan kami sekolah, makanan, tempat berlindung, guru, dan harapan. Terima kasih telah memberikan masa depan Indonesia untuk setiap anak,” ujar Arlan di hadapan Presiden dan ratusan siswa, disambut tepuk tangan meriah.
Ketika ditanya tentang cita-citanya, Arlan menjawab tanpa ragu: “Saya ingin jadi Menteri Pendidikan.” Ia menjelaskan, pengalaman hidupnya di Sekolah Rakyat membuatnya yakin bahwa setiap anak, seberapapun latar belakangnya, berhak mendapat pendidikan layak. “Saya peduli pada generasi muda. Saya ingin mendidik, memberi kesempatan, dan memastikan tidak ada lagi anak yang tertinggal,” kata bocah berusia belasan tahun itu, mata bersinar penuh tekad.
Presiden Prabowo, yang menyaksikan semua ini sambil tersenyum, langsung memberikan pin penghargaan sebagai simbol apresiasi atas keberanian dan ketulusan Arlan. Dalam sambutannya, Presiden menekankan pentingnya pendidikan bukan hanya sebagai akses, tapi sebagai fondasi karakter. “Belajar, belajar, belajar yang baik. Hormati guru, cintai orang tua. Orang tuamu bekerja keras untukmu—apapun pekerjaannya, itu mulia. Kamu harus angkat derajat mereka,” ujar Prabowo, menatap langsung para siswa dan orang tua yang hadir.
Prabowo juga mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai ujian, tapi dari sikap, kesopanan, dan keteguhan hati. “Jangan pernah menyerah. Apapun rintangannya, teruslah maju. Karena dari tempat seperti inilah, pemimpin masa depan lahir.”
Arlan, yang berjanji akan terus belajar giat dan tidak pernah menyerah, menjadi simbol harapan baru: bahwa pendidikan yang merata bukan sekadar kebijakan, tapi jembatan menuju mimpi yang lebih tinggi—bahkan hingga ke kursi Menteri Pendidikan. Di tengah hiruk-pikuk politik dan kebijakan, sebuah suara kecil dari sebuah sekolah di Tabanan berhasil mengingatkan bangsa ini: masa depan Indonesia dimulai dari satu anak yang berani bermimpi, dan satu pemimpin yang mau mendengarkan.

















