Sumbawanews.com,- Kim Yo-jong, adik kandung dan penasihat utama Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un, menegaskan bahwa upaya denuklirisasi Semenanjung Korea adalah “mimpi usang” yang tak lagi relevan. Pernyataan tegas itu disampaikan pada Minggu, 7 Juni 2026, sehari menjelang kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Pyongyang—kunjungan pertama pemimpin Tiongkok ke negara itu dalam tujuh tahun terakhir.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis media pemerintah Korut, Kim Yo-jong menolak mentah-mentah klaim Amerika Serikat bahwa Washington dan Beijing memiliki tujuan bersama untuk mendorong Pyongyang menyerahkan senjata nuklirnya. “Pernyataan AS yang mengkritik status Republik Demokratik Rakyat Korea sebagai negara pemilik senjata nuklir tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat,” tegasnya, mengutip laporan *Arab News*.
Ia menambahkan, para pejabat AS masih terjebak dalam “mimpi pelarian dan usang” yang mengira tekanan diplomatik atau sanksi ekonomi bisa memaksa Korut melepaskan arsenil nuklirnya. Menurutnya, kepemilikan senjata nuklir bukan sekadar alat diplomasi, melainkan jaminan eksistensi negara—dan itu adalah keputusan final yang tak bisa ditawar.
Pernyataan ini muncul di tengah percepatan program senjata nuklir Korut yang semakin agresif sejak gagalnya pertemuan puncak Kim Jong-un dengan mantan Presiden AS Donald Trump pada 2019. Pekan lalu, Kim Jong-un sendiri mengunjungi fasilitas produksi bahan nuklir dan memerintahkan peningkatan kapasitas produksi rudal hingga 2,5 kali lipat dalam lima tahun ke depan. Ia menjanjikan percepatan “eksponensial” dalam pengembangan kekuatan nuklir, sekaligus menegaskan bahwa keamanan nasional tak bisa diserahkan pada janji-janji luar negeri.
Kim Yo-jong juga menuding Amerika Serikat dan Korea Selatan terus memperkuat militer di kawasan, yang menurutnya memperdalam ancaman terhadap Korut. “Memperkuat penangkal nuklir untuk membela diri adalah kesimpulan akhir yang tak bisa diubah dan harus dilaksanakan tanpa syarat,” ujarnya.
Kunjungan Xi Jinping yang segera terjadi dinilai sebagai upaya Beijing untuk memperkuat pengaruhnya atas Pyongyang, yang dalam beberapa tahun terakhir semakin dekat dengan Rusia. Korut diduga telah mengirim pasukan dan persenjataan konvensional untuk mendukung operasi militer Moskow di Ukraina, sementara Rusia memberikan bantuan ekonomi dan teknologi militer sebagai imbalannya.
Dengan sikap tegas Kim Yo-jong ini, tampak jelas bahwa Korut tidak hanya menolak kembali ke meja perundingan—tapi sedang membangun strategi jangka panjang di mana senjata nuklir menjadi tulang punggung kebijakan luar negeri dan pertahanan nasional. Dunia pun dihadapkan pada realitas baru: denuklirisasi bukan lagi isu yang bisa dinegosiasikan, melainkan mimpi yang telah ditinggalkan oleh Pyongyang.
















