Sumbawanews.com,- Pemerintah Amerika Serikat tengah mengevaluasi kemungkinan mengalihkan aset-aset Iran yang dibekukan untuk membiayai pemulihan infrastruktur di negara-negara Teluk yang menjadi sasaran serangan militer Teheran. Langkah ini diungkapkan oleh sumber resmi kepada Reuters, menyusul serangan drone dan rudal balistik Iran terhadap Bahrain dan Kuwait pada Sabtu (6/6), yang memicu ledakan di dekat Bandara Internasional Kuwait dan sirene peringatan di Manama.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dikabarkan telah membentuk tim khusus untuk menghitung kerusakan akibat serangan Iran, sekaligus meninjau opsi pemanfaatan aset Iran — baik yang saat ini dibekukan maupun yang belum teridentifikasi — sebagai sumber pendanaan untuk pemulihan jangka pendek dan pencegahan ancaman di masa depan. Meski jenis aset yang dimaksud belum diungkap secara rinci, indikasi kuat menunjukkan bahwa Washington tidak lagi terbatas pada aset tradisional yang terblokir, melainkan mulai mempertimbangkan aset strategis Iran di luar wilayah keuangan konvensional.
Pernyataan ini muncul tepat sehari setelah Mohsen Rezaei, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei, menegaskan bahwa kesepakatan damai yang diinginkan Teheran bergantung pada pencairan segera aset Iran senilai US$24 miliar yang masih dibekukan AS. Namun, sinyal dari Washington justru bergerak ke arah sebaliknya: bukan membuka kunci aset, tapi mengalihkannya untuk kepentingan sekutu.
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran meluncurkan tujuh rudal balistik dan sejumlah drone serang satu arah ke pangkalan militer di Kuwait dan Bahrain. Militer Kuwait mengklaim berhasil menggagalkan serangan tersebut tanpa korban jiwa, meski sejumlah fasilitas mengalami kerusakan material. Di Bahrain, serangan itu memicu kepanikan warga dan menargetkan fasilitas utama Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama — sebuah simbol kehadiran militer AS di kawasan.
Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) telah menembak jatuh empat drone serang Iran pada Jumat (5/6), yang diluncurkan menuju Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan serangan itu sebagai respons terhadap “pangkalan musuh,” menegaskan bahwa mereka menargetkan basis udara Ali al-Salem di Kuwait dan infrastruktur strategis AS di Bahrain.
Upaya mediasi dari Pakistan — yang mengirimkan seorang menteri ke Teheran pada hari yang sama untuk menyampaikan pesan dari Khamenei — tampaknya gagal menembus kebuntuan politik. Kedua belah pihak kini terjebak dalam siklus balas dendam: serangan, respons, dan ancaman baru yang semakin mengikis peluang gencatan senjata.
Dengan langkah AS yang semakin agresif dalam mempertimbangkan pengalihan aset Iran, konflik ini tidak lagi hanya soal keamanan regional, tapi juga menjadi ujian hukum internasional dan moral tentang siapa yang berhak mengendalikan kekayaan negara yang dikenai sanksi. Di tengah keheningan diplomasi, kawasan Teluk kembali berdiri di ambang kekacauan — dengan aset Iran menjadi bahan bakar baru dalam konflik yang tak kunjung usai.

















