Sumbawanews.com,- Di Asrama Haji Sudiang, Makassar, sekelompok perias perempuan bekerja diam-diam di balik layar, menyulap kelelahan perjalanan haji menjadi senyum cerah saat pertemuan dengan keluarga. Fasilitas yang dikenal sebagai *makeup corner*—diresmikan atas inisiatif karyawan setempat—kini menjadi tempat istimewa bagi jemaah haji perempuan asal Sulawesi Selatan untuk tampil maksimal saat kembali ke tanah air.
Ria Parera, salah satu perias berpengalaman selama 12 tahun, menjadi salah satu ujung tombak layanan ini. Ia mengaku mampu merias hingga tiga jemaah per hari, dengan gaya yang selalu disesuaikan: natural untuk yang masih muda, lembut dan elegan untuk yang lebih tua. “Yang muda minta natural, yang lansia kita sesuaikan dengan usianya,” ujarnya, sambil memperbaiki sedikit garis alis seorang jemaah yang mengenakan jilbab putih bersih.
Tak ada tarif tetap. Jemaah diberi kebebasan memberikan uang jasa secara ikhlas. “Seikhlasnya saja,” kata Ria, sambil menata misbah kecil di sisi jilbab sang jemaah—detail kecil yang justru menjadi simbol kehangatan spiritual dan emosional dalam proses ini.
Pakaian yang dikenakan saat penjemputan dibawa sendiri oleh jemaah, sementara seluruh perlengkapan rias—bedak, lipstik, pensil alis, hingga pengering rambut—disediakan oleh tim. Ini bukan sekadar layanan kecantikan, tapi ritual penghormatan: mengembalikan kepercayaan diri setelah perjalanan panjang di tanah suci.
Ria mengingat masa-masa awal, ketika layanan ini masih berlangsung di wisma lama yang sederhana, sebelum gedung bertingkat Asrama Haji Sudiang berdiri megah. “Dulu juga sudah ada, tapi lebih sederhana. Sekarang, jemaah lebih banyak yang merasa perlu tampil cantik saat bertemu anak dan cucu,” katanya.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan, Ikbal Ismail, mengakui bahwa inisiatif ini muncul dari kebutuhan nyata jemaah. “Bukan perintah dari atas. Ini datang dari hati para karyawan asrama yang melihat jemaah ingin tampil terbaik saat pulang. Mereka bukan hanya ingin pulang, tapi pulang dengan wajah yang membahagiakan keluarga,” ujarnya.
Di ruang kecil yang penuh cermin dan aroma parfum lembut, setiap sentuhan rias bukan sekadar estetika. Ia adalah bentuk cinta yang diam-diam diberikan: untuk menghapus lelah, menyembunyikan luka, dan menghadirkan kembali senyum yang sempat terkubur oleh debu Tanah Suci. Di sini, kecantikan bukan tentang sempurna—tapi tentang pulang dengan hati yang tenang, dan wajah yang bersinar.

















