Home Serba Serbi Tekno Cotton Bukan Solusi Ajaib untuk Mikroplastik

Cotton Bukan Solusi Ajaib untuk Mikroplastik

Sumbawanews.com,- Pemerintah AS meluncurkan kampanye besar-besaran bernama “Great American Cotton Plan” untuk mendorong konsumen memilih pakaian berbahan katun alih-alih serat sintetis, dengan dalih melindungi kesehatan dan membangkitkan industri tekstil domestik. Inisiatif ini, yang didukung oleh Menteri Pertanian Brooke Rollins dan tokoh gerakan Make America Healthy Again (MAHA) Robert F. Kennedy Jr., menggambarkan katun sebagai alternatif “bersih” dan “alami” yang lebih aman dibanding polyester. Namun, di balik narasi yang menarik itu, tersembunyi kompleksitas yang jauh lebih rumit.

Katun memang nyaman, menyerap keringat, dan sering jadi pilihan utama untuk pakaian sehari-hari seperti kaos, piyama, atau denim. Tapi klaim bahwa katun secara otomatis lebih aman atau bebas kimia justru menyesatkan. Proses produksinya—dari penanaman hingga pencelupan—sering melibatkan pestisida kimia, pupuk sintetis, dan bahan seperti formaldehida untuk membuat kain tahan kerut atau noda. Bahkan, penelitian terbaru mempertanyakan asumsi bahwa katun sepenuhnya terurai secara alami di lingkungan.

Di sisi lain, pakaian olahraga berbahan sintetis seperti polyester memang melepaskan mikroplastik saat dicuci, dan kekhawatiran tentang paparan kimia melalui kulit memang wajar. Namun, ilmuwan masih belum sepenuhnya memahami dampak jangka panjang mikroplastik pada tubuh manusia, atau seberapa besar risikonya dibanding paparan dari makanan dan air. Lebih dari itu, serat sintetis memiliki peran tak tergantikan: elastisitas di bagian pinggang celana dalam, daya tahan kaus kaki, dan kemampuan menyerap kelembapan dalam pakaian olahraga—semuanya membutuhkan campuran serat sintetis. Bahkan merek-merek yang mengklaim “low-tox” pun tetap menggunakan bahan sintetis tanpa transparansi.

Kampanye ini juga menuai kritik dari kalangan aktivis MAHA sendiri, yang menilai program ini sebagai upaya industri pertanian untuk memperluas pasar pestisida. Katun adalah tanaman yang sangat boros air dan membutuhkan banyak bahan kimia. Sementara itu, label “organik” yang dijadikan solusi alternatif pun ternyata rawan penipuan—laporan The New York Times mengungkap praktik penipuan besar-besaran dalam rantai pasok katun organik dari India.

Ironisnya, gerakan yang mengklaim menolak sistem korporat justru memperkuat pasar baru: merek-merek pakaian “alami” dan “non-toxic” yang menjual produk dengan klaim tidak terregulasi, harga tinggi, dan produk yang tetap mengandung serat sintetis. Toko daring MAHA Action, misalnya, menjual kaos katun organik—tapi juga menyediakan jaket dan celana berbahan polyester.

Dalam dunia yang penuh kekhawatiran akan kesehatan, narasi sederhana tentang “pilih katun, hindari plastik” sangat menarik. Tapi realitasnya, tidak ada solusi ajaib. Memilih pakaian bukan soal memilih antara alam dan sintetis, melainkan memahami sistem yang menghasilkannya—dan mengakui bahwa tidak ada bahan yang benar-benar bebas jejak.

Previous articleBPOM Gerebek Gudang Kosmetik Ilegal Senilai Rp27,6 Miliar di Tangerang
Next articleBrunei Angkat Pangeran Abdul Mateen Jadi Menlu
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.