Sumbawanews.com,- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengonfirmasi bahwa tarif sejumlah rute Transjabodetabek akan segera disesuaikan bulan ini, termasuk rute ikonik Blok M–Bandara Soekarno-Hatta yang sejak Maret 2026 beroperasi dengan tarif subsidi Rp3.500. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya mengurangi beban subsidi yang dinilai terlalu besar oleh Pemprov DKI.
“Kami segera menetapkan tarif baru, tidak hanya untuk Blok M–Soetta, tapi juga beberapa rute Transjabodetabek lainnya,” ujar Pramono, Jumat (5/6/2026), menegaskan bahwa penyesuaian tarif bukanlah keputusan sembarangan, melainkan respons terhadap tekanan fiskal yang terus meningkat.
Rute Blok M–Soetta, yang menempuh jarak lebih dari 40 kilometer dan melibatkan biaya parkir di bandara yang signifikan, dipastikan akan menjadi rute dengan tarif tertinggi. Meski besaran pastinya belum diumumkan, pemerintah menyatakan bahwa harga baru akan mencerminkan realitas biaya operasional yang jauh lebih tinggi dibanding rute-rute dalam kota.
Sejak diluncurkan pada 12 Maret lalu, layanan ini menjadi andalan warga yang membutuhkan akses cepat ke bandara, namun subsidi yang diberikan—hampir sepenuhnya ditanggung APBD DKI—dinilai tidak berkelanjutan. “Subsidi terlalu besar, dan ini tidak bisa terus-menerus dipikul oleh anggaran daerah,” jelas Pramono.
Penyesuaian tarif ini tidak serta-merta menghapus aksesibilitas, melainkan bertujuan menciptakan keseimbangan antara keberlanjutan layanan dan keadilan keuangan. Pemprov DKI menegaskan bahwa perubahan tarif akan diikuti oleh peningkatan kualitas layanan, termasuk penambahan armada dan peningkatan keamanan di sepanjang rute.
Pemantauan terhadap dampak sosial dan ekonomi dari kenaikan tarif juga akan terus dilakukan. Pemerintah berkomitmen untuk memastikan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah tetap terlindungi melalui skema subsidi selektif dan integrasi dengan sistem transportasi lain, seperti KRL dan MRT.
Dengan rencana ini, Transjabodetabek bergerak dari fase uji coba subsidi ke fase operasional yang lebih mandiri—sekaligus menandai peralihan strategis dalam tata kelola transportasi umum ibu kota.

















