Sumbawanews.com,- Di tengah gemerlap hajatan pernikahan di Gang Seruni, Kelurahan Yukum Jaya, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah, sebuah aksi penangkapan berubah menjadi kerusuhan. Petugas kepolisian yang datang untuk menangkap seorang tersangka begal bersenjata tajam, yang telah lama masuk daftar pencarian orang (DPO), justru dihadang massa. Warga, diduga keluarga dan simpatisan pelaku, mengerumuni petugas, mendorong, dan melempari mereka dengan batu serta kursi—mengakibatkan pelaku berhasil kabur.
Kapolres Lampung Tengah, AKBP Charles Pandapotan Tampubolon, membenarkan operasi tersebut. Menurutnya, pelaku adalah residivis kasus begal yang telah lama diburu. Bukti kuat, termasuk rekaman CCTV yang menunjukkan aksinya menggunakan senjata tajam, telah dimiliki polisi. “Kami mendapat informasi tepat tentang keberadaannya di lokasi hajatan. Petugas langsung bergerak untuk menangkapnya,” ujar Charles, Kamis (4/6/2026).
Namun, proses penangkapan gagal karena intervensi massal. Sejumlah warga tidak hanya menghalangi jalan, tetapi juga menyerang petugas secara fisik. Akibatnya, beberapa anggota polisi mengalami luka akibat lemparan benda keras. “Pelaku memanfaatkan kekacauan untuk melarikan diri,” tambah Charles.
Peristiwa ini terekam kamera dan viral di media sosial, memicu kecaman publik terhadap tindakan warga yang menghalangi penegakan hukum. Di tengah maraknya aksi begal yang mengancam keselamatan masyarakat, keberanian petugas yang tetap menjalankan tugas di tengah kerumunan yang berpotensi berdarah justru menjadi sorotan.
Kasus ini mengungkap ketegangan antara hukum dan solidaritas keluarga yang keliru. Meski pelaku adalah buronan berbahaya, sebagian masyarakat memilih melindungi daripada menyerahkan keadilan. Polisi kini terus berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan tokoh masyarakat untuk mengumpulkan informasi baru dan memperkuat upaya penangkapan ulang.
Sementara itu, Kepolisian Daerah Lampung mengingatkan bahwa setiap tindakan penghalangan terhadap petugas yang sedang bertugas dapat dikenai pasal pidana, termasuk penganiayaan dan perlawanan terhadap aparat. “Kami tidak akan kompromi terhadap pelaku kejahatan, sekaligus akan menindak tegas siapa pun yang menghalangi penegakan hukum,” tegas Charles.
Pesta yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi simbol kegagalan kolektif: di mana keadilan dihambat oleh emosi sesaat, dan keamanan publik menjadi korban dari loyalitas yang keliru.

















