Sumbawanews.com – Jika Maladewa punya keindahan laut yang tenang, maka Sumbawa punya “Raksasa Lembut” yang tak bisa ditemukan di sembarang tempat. Teluk Saleh, yang kini dijuluki sebagai akuarium raksasa dunia, kembali menjadi sorotan internasional seiring meningkatnya populasi dan keteraturan interaksi antara wisatawan dengan Hiu Paus (Rhincodon typus).
Berbeda dengan lokasi lain di dunia di mana kemunculan Hiu Paus bersifat musiman, di Teluk Saleh, pemandangan ini hadir sepanjang tahun. Keunikan ini menjadikan Sumbawa sebagai destinasi wajib bagi para pemburu visual bawah air dan peneliti kelautan global.
Simbiosis Unik dengan Nelayan Lokal
Fenomena di Teluk Saleh berawal dari interaksi alami antara Hiu Paus dengan bagan (rumah apung nelayan). Mamalia raksasa ini kerap mendekati bagan saat nelayan mengangkat jaring di fajar menyingsing, mencari sisa-sisa ikan kecil atau plankton.
“Ini adalah bentuk persahabatan alam. Kami tidak lagi melihat mereka sebagai ancaman bagi hasil tangkapan, tapi sebagai penjaga laut yang membawa keberuntungan,” ujar salah satu nelayan setempat yang kini juga merangkap sebagai pemandu wisata edukasi.
Regulasi Ketat Demi Konservasi
Pemerintah Kabupaten Sumbawa bersama organisasi konservasi telah menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat untuk menjaga kelestarian habitat ini. Beberapa poin penting dalam protokol wisata tersebut meliputi:
Pembatasan Jumlah Kapal: Maksimal hanya dua perahu yang diperbolehkan berada di sekitar satu ekor Hiu Paus.
Larangan Menyentuh: Wisatawan dilarang keras menyentuh tubuh Hiu Paus untuk menjaga lapisan pelindung pada kulit mereka.
Jarak Aman: Menjaga jarak minimal 2 meter dari badan dan 5 meter dari ekor untuk keselamatan bersama.
Aksesibilitas dan Dampak Ekonomi
Transformasi Teluk Saleh menjadi destinasi wisata premium berbasis komunitas telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi warga desa di pesisir, seperti Desa Labuan Jambu. Dari penyewaan kapal hingga penginapan, geliat ekonomi terus tumbuh tanpa merusak ekosistem.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, waktu terbaik untuk memulai perjalanan adalah pukul 04.00 WITA dari bibir pantai, agar bisa mencapai lokasi bagan tepat saat matahari terbit—saat di mana Hiu Paus mulai menampakkan diri ke permukaan.
“Melihat Hiu Paus dari dekat bukan hanya soal adrenalin, tapi soal belajar menghargai makhluk yang sudah ada di bumi jauh sebelum kita. Ini adalah kebanggaan Sumbawa untuk dunia.”















