Home Serba Serbi Tekno Xbox Gelontorkan Studio Compulsion dan Kehilangan Pemimpin Utama

Xbox Gelontorkan Studio Compulsion dan Kehilangan Pemimpin Utama

Sumbawanews.com,- Xbox tengah memperdalam reshuffle besar-besaran dengan mengumumkan penutupan studio Compulsion Games, pengembang di balik judul ambisius *South of Midnight*, sekaligus kepergian dua pemimpin kunci di jajaran Xbox Game Studios. Keputusan ini menjadi langkah terbaru dalam rencana “reset” yang diumumkan minggu lalu oleh kepala Xbox, Asha Sharma, sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat fokus dan efisiensi operasional di tengah tekanan pasar yang semakin ketat.

Compulsion Games, yang berbasis di Minneapolis dan dikenal karena keunikan naratif serta estetika gelap dalam karyanya, kini akan resmi ditutup. Pengumuman ini menyusul laporan dari *Kotaku* yang mengonfirmasi bahwa Microsoft memutuskan untuk menghentikan pendanaan terhadap studio tersebut, meskipun *South of Midnight* baru saja memperlihatkan potensi besar dalam acara Xbox Showcase bulan lalu. Studio ini menjadi korban pertama dari restrukturisasi besar yang menyasar portofolio studio internal Xbox, yang dinilai terlalu luas dan tidak seimbang dengan alokasi sumber daya.

Di saat yang bersamaan, Craig Duncan, kepala Xbox Game Studios sejak Oktober 2024, dan Louise O’Connor, kepala stafnya, mengumumkan keputusan mereka untuk meninggalkan perusahaan. Duncan, yang sebelumnya memimpin Rare—studio legendaris di balik *Banjo-Kazooie* dan *Perfect Dark*—dianggap sebagai sosok kunci dalam membangun kembali identitas Xbox sebagai rumah bagi game eksklusif berkualitas tinggi. Kepindahannya menandai pergantian generasi kepemimpinan yang dramatis dalam waktu singkat, hanya beberapa bulan setelah Sharma mengambil alih kendali dari Phil Spencer.

Dalam memo internal yang beredar pekan lalu, Sharma dan Matt Booty, kepala konten Xbox, secara terbuka mengakui bahwa perusahaan “terlalu memperluas” jaringan studio tanpa dukungan pendanaan yang memadai. Mereka menekankan perlunya fokus pada fransais inti seperti *Gears of War* dan *Halo*, serta memprioritaskan pengembangan IP baru yang benar-benar bisa bersaing di pasar global. “Kami memiliki warisan yang luar biasa, tetapi belum cukup berinvestasi untuk memenangkan pertarungan,” tulis mereka.

Langkah ini juga sejalan dengan keputusan sebelumnya untuk menurunkan harga Xbox Game Pass dan mengembalikan beberapa judul besar seperti *Gears of War: E-Day* dan *Clockwork Revolution* sebagai eksklusif konsol—tanda bahwa Xbox kini lebih memilih kualitas dan konsistensi daripada kuantitas. Namun, keputusan menutup studio yang baru saja meluncurkan proyek ambisius seperti *South of Midnight* menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pengembang dan pemain: apakah ini langkah strategis yang diperlukan, atau tanda bahwa ambisi Xbox mulai terkikis oleh tekanan finansial?

Kepergian Duncan dan O’Connor menambah daftar perubahan besar di jajaran eksekutif Xbox dalam waktu kurang dari enam bulan. Sejak Mei, Sharma telah mereorganisasi tim platform, membawa sejumlah tokoh dari tim CoreAI Microsoft, menandai pergeseran strategis yang semakin menekankan integrasi kecerdasan buatan dan efisiensi operasional di atas kebebasan kreatif studio.

Dengan penutupan Compulsion Games dan kepergian dua pemimpin utama, Xbox kini berada di persimpangan jalan: apakah akan menjadi platform yang lebih ramping dan fokus, atau kehilangan jejak kreativitas yang selama ini menjadi jantung dari ekosistemnya? Bagi para penggemar game eksklusif, pertanyaan itu bukan sekadar soal angka—tapi soal masa depan identitas Xbox sebagai rumah bagi pengalaman bermain yang tak tergantikan.

Previous articleBGN Audit Dapur MBG Saat Libur Sekolah, SPPG Tak Layak Dihentikan
Next articleJepang Tahan Belanda 2-2, Fans Berpesta di Seluruh Asia
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.