Sumbawanews.com,- Komisi Eropa telah menyetujui penggunaan inulin propionate ester (IPE) sebagai bahan pangan baru yang aman dikonsumsi, resmi memasukkannya ke dalam daftar Novel Foods Uni Eropa pada 9 Juli 2026. IPE, yang dikembangkan oleh ilmuwan dari Imperial College London dan University of Glasgow, dirancang untuk membantu mengurangi asupan kalori harian dengan memperpanjang rasa kenyang. Bahan ini bekerja dengan mengantarkan propionat ke usus besar, memicu pelepasan hormon pengatur nafsu makan melalui proses fermentasi alami oleh bakteri usus. Konsumsi sekitar 10 gram IPE per hari, menurut uji klinis terkontrol, terbukti efektif menekan nafsu makan dan mencegah kenaikan berat badan.
IPE merupakan kombinasi alami dari inulin—serat yang ditemukan dalam chicory dan bawang bombai—dengan propionat, asam lemak rantai pendek yang juga dihasilkan secara alami oleh tubuh. Berbeda dengan obat penurun berat badan, IPE sengaja dirancang sebagai pendekatan pencegahan jangka panjang terhadap obesitas, bukan solusi pengobatan. Bahan ini akan diintegrasikan ke dalam berbagai produk pangan seperti smoothie, minuman konsentrat, sereal, dan roti, serta tersedia sebagai suplemen.
Profesor Gary Frost dari Imperial College London menekankan bahwa kenaikan berat badan sebesar satu kilogram per tahun pada orang dewasa muda bisa berujung pada masalah serius saat memasuki usia paruh baya. “Kita tahu serat tinggi membantu, tetapi kebanyakan orang kesulitan mencapai asupan serat yang direkomendasikan,” ujarnya, mengutip laporan Medical Xpress. Peneliti dari University of Glasgow, Profesor Douglas Morrison, menjelaskan bahwa desain IPE memanfaatkan titik aksi alami tubuh untuk merangsang hormon pengatur nafsu makan tepat di usus besar.
Sebelum mendapat persetujuan final, IPE telah melewati evaluasi menyeluruh oleh European Food Safety Authority (EFSA) yang meninjau aspek toksikologi, nutrisi, dan mikrobiologi. Saat ini, produksi IPE masih terbatas pada skala percontohan, sekitar beberapa ratus kilogram per batch. Untuk memperluas produksi hingga ribuan ton, tim peneliti telah mendirikan perusahaan rintisan bernama Satisfed dan sedang mencari mitra industri.















